Harga Bitcoin ambruk tajam hingga sentuh level US$ 60.000, cermati pemicunya

Ussindonesia.co.id  JAKARTA. Harga Bitcoin (BTC) ambruk tajam hingga menyentuh US$ 60.000 pada perdagangan Jumat (6/2/2026). Tekanan jual masif membuat Bitcoin sempat mencetak level terendah intraday di kisaran tersebut, setelah anjlok hampir 30% dalam sepekan terakhir. 

Pelemahan ini dipicu kombinasi likuidasi besar-besaran posisi leverage dan aksi jual investor institusional.

Data pasar menunjukkan, dalam 24 jam terakhir nilai likuidasi di pasar kripto menembus US$ 1,8 miliar. Mayoritas berasal dari posisi long, dengan lebih dari 500 ribu trader terdampak. 

Salah satu posisi Bitcoin di bursa global bahkan terlikuidasi dengan nilai lebih dari US$12 juta.

Vice President Indodax, Antony Kusuma, menilai kondisi ini mencerminkan reaksi pasar yang sangat cepat saat tekanan likuiditas muncul bersamaan. 

Gara-Gara Trump vs Xi Jinping, Harga Bitcoin Terjun Bebas ke US$ 108.000

“Ketika tekanan jual terjadi serempak, pasar kripto bisa bergerak ekstrem karena banyak posisi ditutup dalam waktu singkat,” ujarnya dalam siaran pers, Jumat (6/2/2026).

Tekanan tidak hanya datang dari ritel. Aktivitas investor besar terlihat jelas di pasar exchange-traded fund (ETF) Bitcoin. ETF Bitcoin spot BlackRock (IBIT) mencatat lonjakan volume harian hingga melampaui US$10 miliar, tertinggi sejauh ini. 

Lonjakan tersebut terjadi bersamaan dengan penurunan harga IBIT dan penarikan dana dalam jumlah besar, mengindikasikan pelepasan aset oleh investor institusional.

Dari sisi teknikal, Antony menyebut Bitcoin kehilangan area support penting di kisaran US$65.000–US$62.000. “Jebolnya level ini memicu stop-loss beruntun dan membuka ruang penurunan ke area US$ 60.000,” katanya.

Pelemahan juga meluas ke aset kripto lain. Ethereum (ETH) sempat turun di bawah US$1.800, sementara Solana (SOL) menembus US$70—level terendah sejak Desember 2023. Kondisi ini menandakan aksi jual bersifat menyeluruh, bukan hanya pada Bitcoin.

Trader Pasang Posisi Bearish, Harga Bitcoin dan Kripto Lain Berpotensi Terus Tertekan

Menurut Antony, tekanan saat ini tidak berdiri sendiri di pasar kripto. “Tekanan juga terlihat di saham teknologi dan aset berisiko lain. Saat investor global mengurangi eksposur risiko, kripto biasanya ikut terdampak,” ujarnya. 

Ia menilai situasi ini mencerminkan fase risk-off global, di tengah pengetatan likuiditas dan rilis data ekonomi yang mengecewakan dari sejumlah negara.

Ke depan, arah pergerakan Bitcoin sangat bergantung pada stabilitas pasar global dan respons investor terhadap dinamika makro. 

“Selama sentimen global belum stabil, volatilitas Bitcoin masih akan tinggi,” kata Antony.

Ia mengingatkan pelaku pasar untuk lebih disiplin dalam manajemen risiko. 

Fantastis! VanEck Proyeksi Harga Bitcoin Sentuh Rp 45 Miliar di 2050

Menurutnya, strategi bertahap seperti dollar cost averaging (DCA) bisa menjadi salah satu pendekatan di tengah volatilitas, dengan catatan disesuaikan kemampuan dan profil risiko masing-masing. 

“Yang terpenting, gunakan dana yang memang disiapkan untuk investasi,” pungkasnya.