
Ussindonesia.co.id – , JAKARTA – Harga buyback emas Antam telah mengalami kenaikan 16,48% sejak awal tahun ini hingga Minggu (15/3/2026).
Berdasarkan data Logam Mulia Minggu (15/3/2026), harga buyback emas Antam tidak mengalami perubahan di Rp2.749.000. Posisi itu masih terpaut dari rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di Rp2.989.000 pada akhir Januari 2026.
Kendati demikian, harga buyback emas Antam telah mengalami kenaikan 16,48% untuk periode berjalan 2026. Harga buyback merupakan acuan pembelian kembali oleh PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) berdasarkan ukuran 1 gram.
: Harga Buyback Emas Antam di Pegadaian Hari Ini Minggu 15 Maret 2026
Buyback emas merupakan transaksi menjual kembali emas, baik dalam bentuk logam mulia, logam batangan, maupun perhiasan. Biasanya, harga yang dibanderol lebih rendah dari harga jual saat itu.
Kendati demikian, buyback emas masih bisa mendatangkan keuntungan apabila terdapat selisih besar antara harga jual dan harga buyback.
Sesuai dengan PMK No 34/PMK.10/2017, penjualan kembali emas batangan ke Antam dengan nominal lebih dari Rp10 juta, dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen untuk pemegang NPWP dan 3 persen untuk non NPWP). Adapun, PPh 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari total nilai buyback.
Adapun, pergerakan harga buyback emas Antam sejalan dengan mahar logam mulia di pasar global.
Diberitakan Bisnis sebelumnya, harga emas turun hingga 1,4%, mundur ke level mendekati US$5.000 per ons sementara dolar menguat. Momentum kenaikan harga emas telah terhenti sejak perang AS-Israel dengan Iran dimulai hampir dua minggu lalu, tanpa ada penyelesaian yang terlihat.
: : Harga Emas Antam di Pegadaian Hari Ini Minggu 15 Maret 2026
Harga emas spot turun 1,2% menjadi US$5.019,68 per ons pada pukul 16:04 di New York, Jumat (13/3/2026) dan berada di jalur penurunan mingguan sebesar 3%.
Ini akan menjadi penurunan mingguan berturut-turut pertama sejak November 2025. Perak merosot 4,2% menjadi US$80,29 per ons.
Presiden Donald Trump mengatakan AS meningkatkan serangan terhadap Iran ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, menunjukkan bahwa tidak akan ada pengurangan dalam perang yang mengacaukan aliran energi dan pasar global.
“Harga emas terus gagal mendapatkan keuntungan dari krisis geopolitik,” kata Barbara Lambrecht, analis komoditas di Commerzbank Research, dalam sebuah catatan, dilansir dari Bloomberg, Minggu (15/3/2026).
Dengan harga minyak dan gas yang naik secara signifikan lagi minggu ini, katanya, risiko inflasi juga meningkat. Ini dapat memaksa bank sentral untuk mengambil tindakan balasan.
Harga energi yang lebih tinggi dan meningkatnya kekhawatiran inflasi telah sangat mengurangi ekspektasi bahwa Federal Reserve dan bank sentral lainnya akan memangkas suku bunga.