Harga emas ambruk usai cetak rekor tertinggi, investor ambil untung

Ussindonesia.co.id  NEW YORK. Harga emas dunia terkoreksi pada Kamis (29/1/2026) setelah investor melakukan aksi ambil untung (profit taking) menyusul pencapaian rekor tertinggi sepanjang masa. 

Meski demikian, kinerja emas masih berada di jalur penguatan bulanan terbaik sejak dekade 1980-an, di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

Mengutip Reuters, harga emas spot turun 1,3% ke level US$5.330,20 per troy ounce pada pukul 13.30 waktu AS. Sebelumnya, harga sempat berbalik arah dan anjlok lebih dari 5% ke posisi terendah harian US$ 5.109,62, setelah menyentuh rekor tertinggi di US$ 5.594,82 pada sesi yang sama.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari ditutup melemah 0,3% di level US$ 5.318,40 per troy ounce.

Harga Emas Terkoreksi Usai Cetak Rekor Tertinggi, Pasar Tunggu Sikap The Fed

“Terjadi aksi jual yang cukup tajam setelah logam mulia mencetak rekor tertinggi baru,” ujar Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger.

Meski terkoreksi, harga emas spot masih melonjak sekitar 24% sepanjang Januari dan naik 7% dalam sepekan terakhir. Kuatnya reli ini mendorong UBS merevisi naik proyeksi harga emas menjadi US$ 6.200 per troy ounce untuk tiga kuartal pertama tahun ini, sebelum diperkirakan turun ke US$ 5.900 pada akhir 2026.

Permintaan emas juga semakin meluas, mulai dari investor kripto hingga bank sentral. Direktur Utama GoldSilver Central, Brian Lan, menilai logam mulia kini menjadi sorotan utama karena investor cenderung memburu aset dengan potensi imbal hasil tinggi.

Ketegangan geopolitik turut menopang sentimen emas. Presiden AS Donald Trump menekan Iran untuk kembali berunding soal kesepakatan nuklir, sementara Teheran mengancam akan melakukan pembalasan terhadap AS, Israel, dan sekutunya. 

Harga Emas Terkoreksi Usai Cetak Rekor, Pasar Tunggu Keputusan The Fed

Dari sisi korporasi, CEO grup kripto Tether mengungkapkan rencana alokasi 10%–15% portofolio investasinya ke emas fisik. Di saat yang sama, kepemilikan SPDR Gold Trust, ETF emas terbesar dunia, mencapai level tertinggi dalam hampir empat tahun.

Dari kebijakan moneter, bank sentral AS (The Fed) mempertahankan suku bunga pada Rabu (28/1/2026). Pasar kini menanti pengumuman Trump terkait pengganti Ketua The Fed Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir Mei mendatang. 

Pelaku pasar memperkirakan pemangkasan suku bunga berikutnya baru akan dilakukan pada Juni.

Sementara itu, harga perak spot turun 2,1% ke US$ 114,14 per troy ounce setelah sempat menyentuh US$ 121,64. Meski melemah, harga perak telah melonjak lebih dari 60% sepanjang bulan ini, didorong defisit pasokan dan aksi beli spekulatif.

Harga Emas Stabil, Perak Cetak Rekor Baru di Tengah Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga

Analis Marex, Guy Wolf, menilai pasar perak, platinum, dan paladium relatif kecil dibandingkan emas atau indeks S&P 500, sehingga rentan terhadap arus spekulasi yang membuat harga terlepas dari fundamental permintaan fisik.

Harga platinum spot turun 3,2% ke US$2.602,85 per troy ounce, setelah mencetak rekor US$ 2.918,80 awal pekan ini. Sementara itu, paladium melemah 3,7% ke level US$ 1.996,65 per troy ounce.