Harga emas mulai rebound, analis sarankan strategi investasi bertahap

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas dunia terlihat mulai rebound secara jangka pendek, namun masih berada dalam tekanan tajam dalam periode yang lebih luas.

Berdasarkan data Trading Economics pada Rabu (25/03) pukul 17.25 WIB, harga emas dunia tercatat menyentuh US$ 4.535 per ons troi, menguat 1,84% secara harian.

Meski demikian, secara mingguan harga emas masih turun 5,61% dan terkoreksi hingga 12,26% dalam sebulan terakhir, mencerminkan volatilitas pasar yang tinggi.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengatakan, dalam kondisi pasar yang fluktuatif, investor ritel perlu mengedepankan strategi bertahan.

OJK Sebut Batas Pengajuan Paket Calon Direksi Bursa pada 4 Mei 2026

Ia menyarankan investor menerapkan strategi dollar cost averaging (DCA), yakni melakukan pembelian secara rutin dengan nominal yang sama setiap bulan untuk mendapatkan harga rata-rata yang ideal tanpa harus menebak puncak atau dasar harga.

“Karena harga emas sedang berada dalam rentang volatilitas lebar (US$ 4.200 – US$ 4.610), bagi yang ingin membeli dalam jumlah besar, sebaiknya cicil pembelian saat terjadi koreksi tajam seperti saat harga mendekati US$ 4.100 tempo hari,” ujar Sutopo kepada Kontan, Rabu (25/3/2026).

Sutopo menegaskan bahwa emas adalah instrumen pelindung nilai (asuransi kekayaan), bukan alat spekulasi jangka pendek. 

“Selama kondisi makroekonomi dunia masih dipenuhi utang tinggi dan ketegangan geopolitik, fundamental emas secara jangka panjang tetap kuat,” kata Sutopo.

Senada, analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono menambahkan strategi lainnya agar investor melakukan diversifikasi aset safe haven.

Cermati Proyeksi IHSG untuk Perdagangan Kamis (26/3), Usai Menguat 2,75% Hari Ini

Ia merekomendasikan porsi emas berada di kisaran 5%-15% dari total portofolio untuk menjaga likuiditas dan memitigasi risiko.

“Bagi investor emas fisik, perhatikan selisih harga jual dan harga beli (buyback) agar tidak terjebak dalam biaya transaksi yang tinggi saat fluktuasi pendek,” ujar Wahyu.