Harga kripto berbalik turun, investor ritel masih jadi penggerak

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Pergerakan harga kripto menunjukkan volatilitas tinggi dalam perdagangan Kamis (26/3) setelah sempat menguat di pagi hari sebelum berbalik melemah pada sore hari.

Berdasarkan situs Coinmarketcap.com, harga kripto sempat mencatatkan level tertinggi pada pagi hari. Bitcoin (BTC) mencapai puncaknya di US$ 71.354 pada pukul 05.45 WIB, diikuti Ethereum (ETH) yang menyentuh US$ 2.175 pada pukul 06.10 WIB, serta Solana (SOL) yang berada di level US$ 91,88 pada pukul 07.40 WIB.

Namun, memasuki sore hari, pergerakan harga berbalik arah. Pada pukul 17.45 WIB, harga Bitcoin terkoreksi 2,78% ke level US$ 69.485.

Kripto Sempat Menguat, Kini Berbalik Melemah, Pasar Masih Konsolidasi

Penurunan lebih dalam terjadi pada Ethereum yang melemah 4,98% menjadi US$ 2.077, sementara Solana turun 5,04% ke posisi US$ 87,81. Dalam pergerakan sepekan, ketiga kripto tersebut mengalami koreksi.

Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur menilai kenaikan harga harian saat ini mencerminkan masuknya dana besar tidak didominasi oleh investor institusional.

Menurutnya, pergerakan lebih banyak dipicu oleh reaksi jangka pendek investor ritel dan trader spekulatif terhadap sentimen pasar.

“Dari data on-chain, terlihat bahwa aktivitas whale (transaksi besar di atas $1 juta) justru berada di level rendah dan tidak menunjukkan adanya akumulasi signifikan,” kata Fyqieh saat dihubungi Kontan, Kamis (26/3).

Ia menambahkan, indikator seperti Accumulation Trend Score yang mendekati nol mengindikasikan bahwa investor cenderung melakukan distribusi atau wait and see, bukan masuk agresif ke pasar.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kenaikan harga harian lebih bersifat sentimentdriven, dipicu oleh optimisme sementara terkait potensi perdamaian geopolitik. 

Investor ritel dan trader jangka pendek biasanya lebih responsif terhadap berita seperti ini, sehingga yang cenderung responsif terhadap berita menjadi pendorong utama pergerakan jangka pendek.

Sementara itu, Vice President Indodax, Antony Kusuma melihat pergerakan pasar saat ini merupakan kombinasi antara peran investor ritel dan institusional.

Kinerja Grup Triputra Positif Sepanjang 2025, Simak Prospek dan Rekomendasi Sahamnya

Ia menjelaskan, data pasar global sepekan terakhir, mulai terlihat aliran dana masuk kembali ke pasar, setelah sebelumnya terjadi outflow sebesar US$ 52,11 juta. Pada awal pekan ini (23/3), inflow bersih ke Spot ETF Bitcoin tercatat mencapai US$ 167,23 juta. 

“Akumulasi bertahap oleh institusi ini menciptakan likuiditas yang lebih dibandingkan siklus sebelumnya,” kata Antony. 

Di sisi lain, investor ritel cenderung lebih responsif terhadap pergerakan harga jangka pendek, sehingga turut mempengaruhi dinamika harian pasar.

Menurut Antony, saat Bitcoin bergerak di kisaran US$ 70.000 seperti saat ini, peran investor institusional melalui instrumen seperti spot ETF menjadi kunci dalam menjaga level support pasar.