
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Harga minyak kembali melonjak pada perdagangan awal pekan ini, Senin (30/3/2026). Mengutip Bloomberg, pukul 05.55 WIB, Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei 2026 di New York Mercantile Exchange ada di US$ 102,48 per barel, naik 2,85% dari akhir pekan lalu yang ada di US$ 99,64 per barel.
Sedangkan Harga Brent melonjak lebih dari 3% ke level US$ 116,43 per barel setelah serangan Houthi menembakkan rudal di Israel selama akhir pekan.
Harga minyak kembali naik setelah militan Houthi yang didukung Iran di Yaman memasuki perang Timur Tengah dan lebih banyak pasukan AS tiba di wilayah tersebut. Hal ini meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya konflik dan menyebabkan kekacauan yang lebih besar di pasar energi.
Rupiah Diprediksi Melemah pada Senin (30/3/2026), Cermati Sentimennya
Pelabuhan Arab Saudi Yanbu, yang digunakan negara itu untuk mengekspor Sebagian minyaknya setelah Selat Hormuz ditutup, juga berada dalam jangkauan rudal Houthi.
“Ancaman dari Houthi terhadap infrastruktur dan ekspor minyak Saudi melalui jalur Laut Merah sama seperti menolak operasi bypass yang berhasil menghentikan serangan jantung penuh akibat penutupan Selat Hormuz,” kata Mukesh Sahdev, kepala eksekutif XAnalysts Pty seperti dikutip Bloomberg.
Keterlibatan Houthi membawa risiko baru bagi pasar minyak mentah. Kelompok ini secara efektif menutup Laut Merah bagi Sebagian besar pengirim barang Barat setelah perang di Gaza dimulai tahun 2023, membuat kapal-kapal kargo mengubah rute.
IHSG Berpotensi Melanjutkan Koreksi pada Senin (30/3), Cermati Saham-Saham Berikut
Ancaman terhadap kargo yang dimuat melalui Yanbu di Arab Saudi akan semakin membatasi pasokan.
Pekan lalu, Macquarie Group Ltd memperkirakan bahwa Harga minyak berjangka kemungkinan akan mencapai US$ 200 per barel jika konflik berlanjut hingga Juni dan Selat Hormuz tetap ditutup dalam skenario dengan peluang 40%.