
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Harga minyak naik pada perdagangan Kamis (19/3/2026) pagi. Mengutip Bloomberg, pukul 07.05 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April 2026 di New York Mercantile Exchange ada di US$ 99,40 per barel, naik 3,2% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 96,32 per barel.
Harga minyak naik setelah serangan terhadap beberapa fasilitas energi di Timur Tengah. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan dampak yang lebih parah dari konflik yang telah berlangsung hamper tiga minggu ini.
Mengutip Bloomberg, Iran melakukan serangan terhadap sebuah lokasi LNG Utama di Qatar, salah satu dari beberapa asset energi yang ditargetkan setelah serangan terhadap ladang gas raksasa South Pars milik Republik Islam.
Pasar Global Dibayangi Geopolitik, Arah Suku Bunga Jadi Kunci
Harga minyak telah melonjak sekitar 50% sejak awal perang yang telah menimbulkan kekacauan di seluruh Timur Tengah, mengancam Selat Hormuz bagi pelayaran dan memangkas Sebagian besar produksi minyak dan gas.
Namun, industri energi hulu Iran Sebagian besar terhindar dari dampak buruk hingga saat ini.
Presiden AS Donald Trump mengatakan, dia mengetahui serangan Israel di ladang minyak South Pars sebelumnya, tetapi tidak menginginkan serangan lagi terhadap situs energi Iran.
“Tekanan di Selat Hormuz berarti Preisden Trump tidak bisa begitu saja menyatakan kemenangan dan pergi begitu saja, karena itu tidak akan menyelesaikan masalah mendasar,” kata Will Todman, peneliti senior di Program Timur Tengah di Pusat Studi Strategis dan Internasional.
Wall Street Anjlok Tajam Pasca The Fed Mempertahankan Suku Bunga
“Banyak pilihan yang dimiliki Presiden Trump untuk meningkatkan tekanan pada Iran akan membuat harga energi semakin tinggi, termasuk upaya untuk merebut Pulau Kharg atau menyerang infrastruktur produksi energi Iran.”