Harga perak dalam fase koreksi, ini skenario pergerakannya

Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Prospek harga perak pada semester I 2026 diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif di tengah tingginya ketidakpastian global, khususnya terkait tensi geopolitik di Timur Tengah.

Melansir Trading Economics pukul 18.05 WIB, kinerja logam ini masih tertekan cukup dalam, bahkan tercatat turun hingga 22,8% secara bulanan dan melemah 2,9% ytd ke kisaran US$ 68 per ons troi.

Analis Komoditas dan Founder Traderindo.com Wahyu Laksono berpandangan, dalam waktu dekat ini harga perak masih akan bergerak dalam rentang yang lebih luas, yakni US$ 60 hingga US$ 100 per ons.

“Perak diperkirakan akan bergerak lebih lincah dengan harga di rentang US$ 60 hingga US$ 100 per ons troi jika kondisi geopolitik Iran masih mengancam,” ujar Wahyu kepada Kontan, Jumat (27/3/2026).

Kinerja Amman Mineral (AMMN) Berpeluang Pulih pada 2026, Begini Rekomendasi Sahamnya

Namun demikian, apabila terjadi deeskalasi konflik, peluang kenaikan harga perak justru semakin terbuka lebar. Dalam skenario ini, harga perak berpotensi menguji level yang lebih tinggi di kisaran US$ 120 hingga US$ 130 per ons troi.

Wahyu menjelaskan, proyeksi tersebut didukung oleh pergerakan gold-to-silver ratio yang mulai menyempit. 

Kondisi ini mengindikasikan bahwa perak berpotensi mengejar ketertinggalan setelah sebelumnya tertinggal dari kenaikan harga emas.

Secara jangka pendek, Wahyu melihat harga perak masih cukup kuat bertahan di atas level US$ 60 per ons troi. 

Pelemahan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir dinilai lebih dipengaruhi oleh faktor teknikal dan kondisi makro-moneter.

“Pelemahan ini lebih bersifat teknikal, sementara secara fundamental ketidakpastian global masih sangat kuat menopang harga,” tambahnya.

Meski begitu, risiko penurunan tetap perlu dicermati. Jika eskalasi geopolitik semakin memburuk dan harga minyak terus meningkat, harga perak berpotensi tertekan ke kisaran US$ 40 hingga US$ 60 per ons troi dalam jangka pendek.

Dalam jangka panjang, Wahyu justru melihat prospek perak masih sangat menarik. Ia menilai, logam ini berpotensi mencatatkan penguatan yang lebih agresif dibandingkan emas, bahkan berpeluang menembus rekor harga tertinggi sepanjang masa (all time high).

“Ke depan, perak bisa menguat jauh lebih signifikan dibandingkan emas. Bahkan level US$ 200 hingga US$ 400 per ons troi dalam jangka panjang masih mungkin terjadi,” tutup Wahyu.

Jayamas Medica Industri (OMED) Targetkan Pendapatan Rp 2,3 Triliun di 2026