
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Sejumlah saham emiten minyak dan gas (migas) yang kemarin Selasa (3/3/2026) ditutup kompak menguat saat IHSG jatuh, hari ini tak bisa mempertahankan momentumnya dan turut melemah bersama laju indeks komposit.
Analis Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan mengatakan bahwa perkembangan konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran tetap akan menjadi sentimen utama yang menyertai gerak saham emiten migas.
“Selama ketidakpastian geopolitik masih tinggi dan pasar masih mengkhawatirkan gangguan pasokan serta jalur logistik seperti Selat Hormuz, harga minyak akan sulit turun cepat,” ujar Ekky kepada Bisnis, dikutip Rabu (4/3/2026).
: IHSG Ditutup Anjlok 4,57% ke Level 7.577, Saham AMMN, TPIA dan TLKM Tersungkur
Menurutnya, penutupan Selat Hormuz akan mengganggu arus suplai energi global dan membuat harga komoditas energi bertahan tinggi, sehingga peluang penguatan lanjutan di saham-saham energi masih terbuka, meski tetap volatil dan rawan profit taking.
Dalam kondisi pasar yang volatil ini, Ekky menilai persepsi investor akan tertuju pada emiten yang bisa secara langsung mendapat benefit dari harga minyak yang sedang tinggi. Di sisi lain, selama harga minyak bertahan di level tinggi, menurutnya harga saham emiten bisa mencapai level keseimbangan baru usai terapresiasi pasar.
: : Investor Asing Diam-diam Beli Saham RI Rp3,44 Triliun saat IHSG Keok
“Jadi selain sentimen global, investor perlu lihat sensitivitas laba terhadap harga minyak, tren produksi/volume, efisiensi biaya, serta struktur utang dan manajemen risiko masing-masing emiten. Kalau faktor-faktor ini mendukung, reli harga berpotensi lebih sustain, bukan cuma efek headline,” jelasnya.
Untuk rekomendasi, Ekky menilai saham-saham yang menarik di tema energi adalah MEDC dan ENRG karena exposure-nya lebih sensitif ke harga minyak. Lalu, ELSA bisa jadi opsi yang relatif lebih defensif lewat bisnis jasa penunjang migas. Sementara itu, ESSA menurutnya juga menarik karena ada exposure ke ammonia, sehingga kalau konflik memicu kenaikan biaya energi/logistik serta mendorong kenaikan harga komoditas tertentu, sentimen ke ESSA bisa ikut terbantu.
: : Hati-hati Volatilitas IHSG Jangka Pendek Saat Penyesuaian Free Float 15%,
“Strateginya saya lebih prefer tidak mengejar saat sudah loncat tinggi, tapi masuk bertahap saat ada pullback atau konsolidasi, lalu hold mengikuti pergerakan harga minyak dan perkembangan konflik, dengan disiplin ambil profit bertahap karena volatilitasnya tinggi,” tandasnya.
Pada penutupan pasar Rabu (4/3/2026), harga saham PT ESSA Industries Indonesia Tbk. (ESSA) turun 1,33% ke Rp740, saham PT Elnusa Tbk. (ELSA) melemah 6,91% ke Rp875, kemudian saham PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) turun 4,21% ke Rp1.820. Sedangkan, saham PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) melanjutkan penguatannya sebesar 0,47% ke Rp2.140.
Sementara itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali ditutup melemah 4,57% ke 7.577, usai pada Selasa (3/3) juga ditutup koreksi 0,96%. Yang membedakan, kemarin IDXENERGY menjadi satu-satunya indeks saham sektoral yang menguat ketika IHSG jatuh, namun hari ini semua indeks saham sektoral kompak merah.
______
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.