
Ussindonesia.co.id JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Selasa (31/3/2026). Sejumlah saham big caps penopang indeks komposit seperti BBCA, BREN hingga TLKM kompak dibuka di zona hijau.
Melansir IDX Mobile pukul 09.01 WIB, IHSG menguat 0,80% ke 7.148. Pasar dibuka dengan transaksi 925,7 juta saham senilai Rp569,5 miliar. Ada sebanyak 344 saham yang dibuka menguat, 122 saham melemah dan 492 saham belum bergerak.
Saham berkapitalisasi pasar terbesar yang dibuka menguat di antaranya adalah saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menguat 1,55% ke Rp6.550, saham PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) naik 1,83% ke Rp5.575, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (Persero) Tbk. (BBRI) naik 0,60% ke Rp3.380, serta ada saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang dibuka menguat 2,63% ke Rp3.120.
Di sisi lain, saham big caps yang dibuka melemah antara lain ada saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) yang turun 1,53% ke Rp65.975 dan saham PT Astra International Tbk. (ASII) yang turun 1,57% ke Rp6.250.
: Saham Pilihan BNI Sekuritas Saat IHSG Hari Ini (31/3) Berpotensi Menguat Terbatas
Tim riset Phintraco Sekuritas memprediksi IHSG hari ini akan bergerak di area pivot 7.100. Secara teknikal, koreksi IHSG 0,08% pada penutupan sebelumnya diikuti dengan pembentukan histogram MACD yang cenderung sideways, sehingga diperkirakan indeks komposit hari ini, Selasa (31/3) akan bergerak dikisaran level 7.000-7.200.
Selasa kemarin saham sektor energi membukukan penguatan terbesar, yakni 2,18%, sejalan dengan berlanjutnya kenaikan harga minyak mentah akibat konflik di Timur Tengah yang masih berlangsung. Sedangkan, saham sektor keuangan mencatatkan pelemahan terbesar mencapai 1,17%, dikontribusikan oleh pelemahan saham BBCA karena memasuki ex date dividend serta koreksi saham perbankan lainnya di tengah kekhawatiran akan prospek ekonomi.
Saat ini, sentimen domestik yang menyertai pasar adalah langkah pemerintah yang sedang merancang skema efisiensi anggaran hingga WFH sebagai langkah mitigasi untuk meminimalisir dampak kenaikan harga minyak mentah terhadap APBN dan ekonomi.
“Beberapa langkah untuk menekan impor migas adalah dengan penghematan energi dan penguatan mandat Biodiesel 50% (B50). Pemerintah berencana mengumumkan secara resmi kebijakan yang ditempuh pada malam ini (31/3),” tulis Phintraco Sekuritas, Selasa (31/3).
Rencana kebijakan pemerintah tersebut sebagai upaya untuk tidak menaikkan harga BBM subsidi yang akan berdampak luas terhadap inflasi serta opsi agar tidak terjadi pelebaran defisit APBN. Namun, untuk BBM non subsidi berpotensi akan mengalami kenaikan pada saat penyesuaian harga bahan bakar bulanan di umumkan di 1 April 2026.
Sekuritas melihat kondisi tersebut berpotensi menjadi faktor positif bagi ekosistem kendaraan listrik dalam jangka menengah panjang, termasuk nikel dan tembaga.
“Sementara itu pemerintah belum memberikan kepastian mengenai pemberlakukan bea keluar terhadap ekspor batu bara, meskipun sudah masuk dalam asumsi penerimaan APBN 2026. Sedangkan, bea keluar produk turunan nikel sudah mendapat persetujuan dari Presiden Prabowo, namun juga belum ditentukan kapan pelaksanaannya,” tulis sekuritas.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.