
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terperosok ke 7.577,06 pada Rabu (4/3/2026). Kondisi ini selaras dengan tekanan pada sejumlah saham big caps, seperti AMMN, TPIA, TLKM, dan UNVR.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup turun sebesar 4,57% atau 362,70 poin menuju 7.577,06. Indeks komposit hari ini dibuka pada level 7.896,37 dan sempat menyentuh posisi tertingginya ke level 7.897,81.
Tercatat, hanya 54 saham yang naik, 734 saham turun, dan 33 saham stagnan. Sementara itu, kapitalisasi pasar alias market cap mencapai Rp13.549 triliun.
Dari jajaran saham big caps, penurunan terdalam ditorehkan PT Amman Mineral Internasional Indonesia Tbk. (AMMN) yang terkoreksi 10,62% ke posisi Rp6.100, sedangkan saham PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) membukukan penurunan sebesar 8,15% menuju level Rp5.350 per saham.
: Investor Asing Diam-diam Beli Saham RI Rp3,44 Triliun saat IHSG Keok
Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) turut menekan indeks dengan penurunan 7,25% ke level Rp3.200. Adapun saham PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) terkoreksi sebesar 6,97% menjadi Rp1.935 per saham.
Sementara itu, saham top gainers hari ini dihuni oleh PT Ifishdeco Tbk. (IFSH) yang naik 25% ke level Rp3.250, sementara PT Satria Mega Kencana Tbk. (SOTS) meraih pertumbuhan sebesar 24,59% menjadi Rp725 per saham.
Di sisi lain, posisi saham paling boncos atau top losers ditempati oleh PT Island Concepts Indonesia Tbk. (ICON) yang terkoreksi 14,91% menjadi Rp97, dan PT Megapower Makmur Tbk. (MPOW) melemah 14,73% ke Rp110 per saham.
IDX COMPOSITE INDEX – TradingView
Sebelumnya, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, Irvan Susandy, menjelaskan pergerakan IHSG saat ini sejalan dengan tren negatif yang melanda bursa saham regional. Indeks utama di Asia-Pasifik seperti Kospi, SET, Kosdaq, Nikkei, Taiwan TAEIX, hingga ASX juga mengalami penurunan tajam.
Bahkan, Irvan menyoroti kondisi ekstrem yang terjadi di Korea Selatan. Bursa saham Negeri Ginseng tersebut dilaporkan sempat mengalami penghentian perdagangan sementara atau trading halt setelah merosot lebih dari 8%.
“Hal ini merupakan dampak dari eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah yang terus memanas. Iran menutup Selat Hormuz yang menyebabkan kekhawatiran munculnya krisis energi,” ujar Irvan dalam keterangan resmi, Rabu (4/3/2026).
Menurut Irvan, sentimen risiko global sudah tercermin pada pergerakan harga komoditas. Harga minyak dunia terpantau meningkat signifikan seiring dengan terganggunya jalur distribusi energi internasional di Selat Hormuz.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.