
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memanas masih berdampak di pasar saham nasional. Pada penutupan hari ini, Selasa (3/3/2026), indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali parkir di zona merah.
Melansir IDX Mobile, IHSG turun 0,96% ke 7.939. Sebanyak 365 saham ditutup melemah. Sisanya, 362 saham menguat dan 231 saham tak berubah. Kondisi ini menjadi perhatian Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan meminta investor ritel tak panic selling.
Anggota Dewan Komisioner OJK pengganti Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Hasan Fawzi mengatakan apa yang terjadi di pasar Indonesia juga dirasakan oleh bursa saham negara-negara lainnya yang turut terdampak eskalasi perang AS-Iran. Oleh karena itu, pelemahan IHSG saat ini menurutnya wajar terjadi.
: IHSG Ditutup Lesu ke 7.939 Tertekan Saham UNVR, BREN hingga TPIA
Di Indonesia, jelasnya, OJK dan BEI memiliki sejumlah mekanisme untuk menjaga stabilitas pasar dan mengantisipasi pasar jatuh lebih dalam. Misalnya, emiten bisa melakukan buyback saham tanpa Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), mekanisme auto reject yang bisa menahan harga suatu saham bisa jatuh lebih dalam, sampai mekanisme trading halt atau pembekuan aktivitas pasar saham.
“Stabilitas pasar tergatung pada perilaku dan respons investor. Oleh karena itu kami OJK mengimbau ke investor ritel yang aktif di pasar untuk tetap rasional dan tetap mencermati perkembangan yang ada,” ujar Hasan dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan Februari 2026, Selasa (3/3/2026).
: : Asing Masih Net Sell, BBCA hingga BUMI Paling Banyak Dijual
Hasan juga mengimbau agar investor ritel tetap mempertimbangkan aspek risiko dan faktor fundamental emiten yang menjadi sasaran investasi. Menurutnya, hal-hal itu sangat dibutuhkan apalagi ketika pasar yang sekarang sangat dinamis imbas konflik global.
Hasan menambahkan, dalam situasi ketidakpastian global yang sudah terjadi sebelumnya, investor cenderung merespons kondisi pasar dengan merotasi aset mereka ke kelompok safe haven seperti emas atau mata uang yang cenderung lebih stabil seperti dolar AS, maupun obligasi negara sembari wait and see.
: : IHSG Sepekan Menguat 3,49%, Net Sell Asing Tembus Rp16,49 Triliun
Kondisi tersebut kemudian berimbas pada aliran asing yang keluar dari pasar modal Tanah Air. Berdasarkan statistik BEI per Senin (2/3/2026), net sell asing di pasar mencapai Rp10,14 triliun secara year to date (YtD).
“Kami OJK memantau secara intensif likuiditas dan risiko di pasar. Bersama lembaga lain di Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) kami pastikan stabilitas sistem keuangan kita,” tandasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.