IHSG naik 0,20% ke 7.636 sesi I Jumat (17/4), saham SCMA, NCKL, AADI jadi top gainers

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melaju di zona hijau pada perdagangan sesi pertama Jumat (17/4/2026), meskipun bursa regional bergerak melemah.

Mengutip data RTI, IHSG naik 0,20% atau 15,505 poin ke level 7.636,887. Sepanjang sesi, tercatat 331 saham menguat, 291 saham melemah, dan 194 saham stagnan.

Aktivitas perdagangan tergolong ramai dengan total volume mencapai 23,9 miliar saham dan nilai transaksi sebesar Rp 8,2 triliun.

IHSG Dibuka Menguat Tipis Jumat (17/4) di Tengah Tarik-Menarik Sentimen Global

Penguatan IHSG ditopang oleh mayoritas sektor. Sebanyak delapan indeks sektoral berada di zona hijau, dengan tiga sektor yang mencatat kenaikan tertinggi yakni IDX-Trans sebesar 1,80%, IDX-Techno 1,03%, dan IDX-Basic 0,90%.

Saham top gainers LQ45:

  • PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) naik 6,21% ke Rp 308
  • PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) naik 4,27% ke Rp 1.220
  • PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) naik 3,42% ke Rp 11.325

Saham top losers LQ45:

  • PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) turun 2,13% ke Rp 3.210
  • PT XL SMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) turun 1,58% ke Rp 3.110
  • PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) turun 1,50% ke Rp 1.315

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp 17.156 Per Dolar AS Hari Ini (17/4), Mayoritas Asia Turun

  SCMA Chart by TradingView  

Di sisi eksternal, sentimen global cenderung negatif. Mengutip Reuters, indeks saham Asia-Pasifik di luar Jepang (MSCI) turun sekitar 0,8% seiring aksi ambil untung investor setelah reli kuat sepanjang April.

Meski terkoreksi, indeks tersebut masih berada di dekat level tertinggi sejak awal Maret dan telah menguat sekitar 14,5% sepanjang bulan ini, setelah sebelumnya anjlok 13,5% pada Maret akibat memanasnya konflik Iran.

Di Jepang, indeks Nikkei juga melemah sekitar 1% setelah mencetak rekor tertinggi pada perdagangan sebelumnya.

Secara keseluruhan, mayoritas pasar saham global telah kembali ke level sebelum konflik pecah pada akhir Februari, mencerminkan optimisme investor terhadap prospek meredanya ketegangan geopolitik.