Investasi Danantara Rp234 Triliun Diproyeksi Picu Kenaikan Saham BUMN & Efek Crowding-In

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Alokasi investasi Danantara Indonesia senilai US$14 miliar atau setara Rp234,90 triliun pada 2026 diproyeksikan menjadi stimulus signifikan bagi pergerakan saham BUMN, sekaligus memicu fenomena crowding-in effect.

Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menjelaskan kehadiran Danantara sebagai pengelola aset bakal meningkatkan kepercayaan pasar melalui intervensi langsung maupun penguatan fundamental.

Hal itu pun tercermin dari respons positif pasar terhadap saham-saham pelat merah, seperti PT Timah Tbk. (TINS) dan PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA).

: Skema Danantara Masuk Bursa, BEI: IPO BUMN Jadi Salah Satu Opsi

“Kehadiran Danantara sebagai pengelola aset aktif meningkatkan kepercayaan pasar dan volume perdagangan, yang pada akhirnya mendorong apresiasi nilai pasar saham BUMN secara berkelanjutan seiring dengan pelaksanaan restrukturisasi yang nyata,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (26/1/2026). 

Menurut Abida, proyek strategis Danantara juga dinilai memiliki daya tarik bagi investor institusi dan global melalui model kemitraan strategis.

: : Bos Danantara Bocorkan Rencana Belanja Investasi Proyek 2026, Capai Rp235 Triliun

Di samping itu, upaya Danantara dalam membangun posisi di kancah internasional, seperti World Economic Forum (WEF) Davos juga disebut memperkuat citra Indonesia sebagai mitra investasi yang transparan.

Abida menambahkan bahwa kolaborasi konkret pada proyek infrastruktur energi, kesehatan, hingga hilirisasi industri, termasuk proyek pabrik soda kaustik senilai US$800 juta, turut memberikan sinyal kepastian hukum serta prospek keuntungan yang terukur bagi investor asing.

: : CIO Danantara Ungkap Rencana Investasi Jumbo hingga Rp235 Triliun pada 2026

Dari sisi valuasi, sektor telekomunikasi, energi terbarukan, dan hilirisasi mineral diprediksi menerima sentimen positif paling kuat. Fokus Danantara pada industri strategis diyakini mendorong re-rating valuasi emiten terkait.

Sektor telekomunikasi melalui PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) disebut telah menunjukkan optimalisasi aset digital, sementara sektor mineral diuntungkan oleh pendanaan proyek smelter dan transisi energi bersih.

“Dengan kondisi valuasi indeks saham utama, yakni IDX30 yang saat ini masih diperdagangkan di bawah rata-rata historisnya, langkah restrukturisasi Danantara membuka ruang apresiasi yang luas bagi emiten di sektor-sektor tersebut untuk mencapai nilai intrinsik yang lebih tinggi,” pungkas Abida. 

Pemicu Crowding-in Effect

Dihubungi terpisah, Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi juga menuturkan bahwa alokasi investasi jumbo Danantara akan menjadi katalis utama bagi proses re-rating valuasi emiten pelat merah.

Menurutnya, kucuran dana tersebut akan memberikan jaminan likuiditas bagi proyek-proyek pemerintah. Selain itu, langkah ini diharapkan dapat membantu proses penyehatan neraca keuangan atau deleveraging pada emiten pelat merah.

“Alokasi tersebut berpotensi menjadi katalis re-rating valuasi karena pasar dapat merespons positif seiring dengan adanya jaminan likuiditas proyek dan proses deleveraging, sehingga menurunkan risiko arus kas yang selama ini membebani emiten BUMN,” pungkas Wafi kepada Bisnis.

Sementara itu, Wafi menambahkan kehadiran Danantara sebagai penyokong dana dapat memicu fenomena crowding-in effect, yakni dorongan bagi investor swasta untuk ikut menanamkan modal berkat keterlibatan pemerintah.

Dengan adanya keterlibatan finansial pemerintah yang kuat, profil risiko proyek menjadi lebih rendah di mata global sehingga meningkatkan kepercayaan investor asing untuk kembali mengakumulasi saham BUMN.

“Kebijakan tersebut berpeluang memicu efek crowding-in, mengingat komitmen finansial pemerintah dapat menurunkan profil risiko proyek,” pungkasnya.

Terkait arah aliran dana, KISI Sekuritas memproyeksikan tiga sektor utama yang akan menerima sentimen positif paling kuat dari rencana investasi Danantara, yakni infrastruktur, energi dan hilirisasi, serta perbankan.

Sebelumnya, CIO Danantara Indonesia Pandu Sjahrir menyampaikan dana investasi US$14 miliar atau setara Rp234,90 triliun (kurs Jisdor Rp16.779 per dolar AS) diperoleh dari setoran dividen BUMN, serta rencana penerbitan obligasi kedua dalam beberapa bulan mendatang.

“Tahun lalu kami sudah berkomitmen sekitar US$8 miliar … tetapi total tahun ini mencapai US$14 miliar yang harus kami gunakan,” ujarnya dalam Reuters Global Markets Forum di Davos, Swiss, pada Kamis (22/1/2026).

Sementara itu, Stockbit Sekuritas menyebutkan alokasi dana investasi itu akan menyasar sejumlah proyek strategis pada 2026, baik melalui investasi langsung maupun pasar publik. Sederet proyek bahkan telah memasuki tahap awal.

Salah satu agenda Danantara adalah pengembangan proyek waste-to-energy (WTE) yang akan memasuki tahap pengumuman pemenang lelang pada pertengahan Februari 2026, diikuti dengan groundbreaking pada Maret 2026.

Proyek tahap pertama ini difokuskan di Bogor, Bekasi, Denpasar, dan Yogyakarta dengan estimasi kebutuhan dana Rp2,5 triliun hingga Rp3 triliun. Danantara juga merencanakan lelang tahap kedua untuk enam kota lainnya.

_________ 

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.