Kepemilikan SBN ditopang investor domestik, begini dampaknya ke pasar keuangan

Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Porsi kepemilikan investor asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) yang terus menurun dinilai membawa dampak ganda terhadap pasar obligasi domestik.

Melansir data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), kepemilikan non residen atau asing di surat utang domestik tercatat tinggal 12,75% per akhir April 2026 atau sekitar Rp 862,36 triliun. 

Porsi ini turun dari sekitar 13,17% atau sebesar Rp 878,75 triliun pada Januari 2026. Jika dibandingkan dengan tahun lalu juga lebih menyusut, pada April 2025 kepemilikan asing di SBN masih sekitar Rp 899,66 triliun atau porsinya sebanyak 14,36%.

Kinerja Reksadana Menguat pada April 2026, Ini Faktor Pendorongnya

Kondisi ini menunjukkan jika pasar obligasi domestik semakin ditopang oleh investor dalam negeri.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyebut dominasi investor domestik dalam pasar SBN membawa dua konsekuensi yang perlu dilihat secara seimbang

Kondisi ini mencerminkan perbaikan struktural yang positif. Pengalaman pada periode gejolak global sebelumnya menunjukkan bahwa tingginya porsi asing membuat pasar sangat sensitif terhadap perubahan sentimen. 

Dengan porsi asing yang kini jauh lebih kecil, menurut Yusuf, risiko arus keluar besar dalam waktu singkat juga menurun. Bank, asuransi, dana pensiun, reksadana, Bank Indonesia, dan investor ritel memberi basis permintaan yang lebih stabil.

Namun demikian, stabilitas tersebut bukan tanpa risiko. Yusuf mengingatkan bahwa investor domestik juga dapat melakukan penyesuaian portofolio seiring perubahan kondisi ekonomi. 

“Perbankan, misalnya, bisa mengalihkan investasi ke instrumen yang lebih likuid atau berdurasi pendek saat risiko meningkat,” jelas Yusuf kepada Kontan, Senin (4/5/2026).

Selain itu, meningkatnya porsi kepemilikan SBN oleh sektor perbankan juga berpotensi menimbulkan risiko konsentrasi. Jika terjadi tekanan di sektor perbankan, dampaknya dapat langsung merambat ke pasar obligasi pemerintah.

Laba Jasa Marga (JSMR) Turun di Kuartal I, Tarif Tol Bisa Jadi Penopang ke Depan

Yusuf juga menyoroti aspek lain yang, yakni potensi berkurangnya mekanisme pembentukan harga (price discovery) yang mencerminkan persepsi investor global.

“Ketika partisipasi asing rendah, harga bisa terlihat stabil. Namun penyesuaian bisa terjadi cukup tajam saat investor global kembali masuk dengan ekspektasi imbal hasil tertentu,” imbuhnya.

Adapun Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menambahkan stabilitas ini bisa menjadi mahal jika yield tetap tinggi. Memang, terpantau imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun kini masih bertahan tinggi, yakni di kisaran 6,8%.

Sehingga, pemerintah harus membayar bunga besar, sementara perbankan bisa lebih tertarik membeli SBN daripada menyalurkan kredit produktif. Oleh sebab itu, risiko crowding out berpotensi muncul jika dana domestik terlalu banyak terserap ke pembiayaan negara.

“Jadi, dominasi domestik menambah daya tahan pasar, tetapi pemerintah tetap harus menurunkan premi risiko agar stabilitas tidak membebani APBN dan sektor riil,” ujar Syafruddin.