Kinerja Jasa Marga (JSMR) turun pada 2025, simak rekomendasi sahamnya

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Kinerja PT Jasa Marga Tbk (JSMR) mengalami penurunan sepanjang tahun 2025. Meskipun begitu, pertumbuhan kinerjanya di tahun 2026 diperkirakan masih stabil.

JSMR mencatatkan pendapatan total Rp 29,89 triliun sepanjang 2025. Ini turun 5,87% secara tahunan alias year on year (YoY) dari Rp 31,75 triliun di 2024.

EBITDA JSMR tercatat meningkat dibandingkan periode sebelumnya menjadi sebesar Rp13,3 triliun sepanjang 2025. Jasa Marga juga membukukan EBITDA Margin sebesar 67,0%. Alhasil, core profit perseroan tercatat stabil sebesar Rp3,7 triliun.

Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono mengungkapkan, stabilitas core profit tersebut tidak terlepas dari pertumbuhan pendapatan usaha dan EBITDA, serta keberhasilan perseroan dalam menurunkan beban keuangan secara konsolidasi sebesar 10,5% year on year (yoy).

IHSG Rawan Lanjutkan Koreksi pada Rabu (4/3), Ini Kata Analis

“Penurunan beban keuangan secara konsolidasi sebagai dampak positif dari aksi korporasi equity financing di PT Jasamarga Transjawa Tol (JTT) yang dilakukan pada Kuartal IV Tahun 2024,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima Kontan, Selasa (3/3).

Pada tahun 2024, JSMR menggandeng mitra strategis melalui aksi korporasi equity financing PT JTT, yang mana perseroan tetap menjadi pengendali utama dengan kepemilikan saham sebesar 65%. Strategi ini diakui mampu memperkuat kapasitas keuangan dan meningkatkan fleksibilitas pendanaan perseroan.

Melansir laporan keuangan, laba bruto JSMR tercatat Rp 11,78 triliun di 2025, masih naik 4,2% YoY dari Rp 11,3 triliun di 2024.

Sayangnya, kinerja JSMR tahun ini terpantau tertekan kenaikan sejumlah pos pajak. Pos manfaat pajak penghasilan kini tercatat Rp 1,13 triliun dan pos manfaat pajak penghasilan tangguhan Rp 410,83 miliar. Total manfaat pajak penghasilan sebesar Rp 1,54 triliun.

Selain itu, ada rugi yang belum direalisasikan dari aset keuangan lainnya pada nilai wajar sebesar Rp 15,64 miliar.

Alhasil, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih menjadi Rp 3,65 triliun di 2025, turun 19,26% YoY dari Rp 4,53 triliun di 2024.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisory, Ekky Topan melihat, pos manfaat pajak penghasilan tersebut umumnya terkait pajak tangguhan, sehingga sifatnya lebih banyak akuntansi yang muncul dari perbedaan perlakuan komersial dibandingkan fiskal. Misalnya, soal penyusutan aset, perubahan estimasi umur manfaat, atau penyesuaian basis pajak. 

Saham Emiten Energi Kompak Turun pada Perdagangan Selasa (3/3)

Karena sifatnya akuntansi, pos tersebut bisa tercatat besar dan membuat laba bersih terlihat turun lebih dalam, meskipun laba bruto masih relatif terjaga. 

Jadi, tekanan margin 2025 bukan semata karena core bisnis tolnya drop, tapi karena komponen pajak tersebut membuat bottom line lebih tertekan,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (3/3).

Untuk tahun 2026, kinerja JSMR dilihat berpeluang membaik secara bertahap dan tidak akan agresif. Ekky bilang, katalis utama penggerak kinerja JSMR berasal penyesuaian tarif tol dan pemulihan trafik. 

Namun, tarif tol saja dilihat tidak selalu cukup kalau trafik tidak tumbuh kuat atau ada faktor ekonomi yang menahan mobilitas.

“Di sisi lain, variabel yang paling berpengaruh untuk kinerja keuangan JSMR adalah biaya keuangan atau beban bunga dan strategi pendanaan, jadi pasar akan sensitif ke pergerakan yield, refinancing, dan disiplin pengelolaan utang,” katanya.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand berpandangan, prospek kinerja JSMR di tahun 2026 dinilai lebih stabil, dengan asumsi pertumbuhan trafik sekitar 5% dan kenaikan tarif tol berkala 2–3% mengikuti siklus dua tahunan. 

“Namun, keberlanjutan perbaikan kinerja sangat bergantung pada disiplin belanja modal alias capital expenditure (capex) dan strategi pengelolaan arus kas,” tuturnya.

Setelah periode ekspansi agresif 2014–2024 dengan CAGR capex hingga 18%, pertumbuhan capex JSMR diperkirakan melambat menjadi sekitar 1% CAGR pada 2026–2031. Ini seiring pergeseran fokus pemerintah dari pembangunan infrastruktur keras.

Jika eksekusi capex lebih terukur dan tidak ada pembengkakan proyek atau akuisisi besar, free cash flow (FCF) yield berpotensi membaik signifikan hingga mendekati 10% pada 2031, dari posisi yang masih tipis saat ini.

Sentimen positif penggerak kinerja JSMR berasal dari normalisasi trafik, stabilitas margin operasional sekitar 11%, serta potensi asset recycling.

“Sementara risiko utama mencakup trafik yang lebih rendah dari proyeksi, tambahan utang untuk menjaga likuiditas, dan tekanan biaya bunga,” ungkapnya.

Ekky merekomendasikan buy on weakness untuk JSMR dengan target harga jangka panjang-menengah Rp5.000 per saham. Sedangkan Abida merekomendasikan beli untuk JSMR dengan target harga Rp 4.750 per saham.

Harga Saham Big Banks 3 Maret 2026: BBCA dan BMRI Menguat, BBRI Melemah