Kinerja LPKR turun saat Lippo Cikarang (LPCK) pulih, ini rekomendasi sahamnya

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Kinerja induk perusahaan Grup Lippo, PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) mengalami penurunan kinerja sepanjang tahun 2025. Penurunan itu terjadi saat anak usahanya di bidang properti, PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK), justru pulih.

Pendapatan neto LPKR tercatat Rp 8,84 triliun sepanjang 2025. Ini turun 21,48% secara year on year (YoY) sejak Rp 11,34 triliun.

Segmen real estate development menyumbang paling besar ke pendapatan, yaitu Rp 7,66 triliun. Sisanya Rp 1,36 triliun berasal dari segmen lifestyle.

LPKR pun mencatat laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih Rp 469,53 miliar di 2025. Ini amblas 97,49% YoY dari Rp 18,74 triliun di tahun 2024.

Surge (WIFI) Gandeng Perusahaan China FiberHome untuk Genjot 5G FWA 1,4GHz

Sementara, LPCK berhasil memulihkan kinerja di sepanjang tahun 2025. Pendapatan neto emiten properti Grup Lippo ini tercatat Rp 4,41 triliun sepanjang 2025, melesat 132,48% YoY dari Rp 1,89 triliun di 2024.

Segmen penjualan rumah hunian dan apartemen menyumbang mayoritas, yaitu Rp 2,99 triliun. Lalu, segmen penjualan lahan komersial dan rumah toko Rp 552,81 miliar, pendapatan pengelolaan kota Rp 474,48 miliar, penjualan tanah industri Rp 349,69 miliar, serta pendapatan sewa dan lainnya Rp 151,58 miliar.

LPCK juga bisa mengurangi beban lainnya menjadi Rp 28,99 miliar di 2025, dari sebelumnya Rp 1,78 triliun.

Laba bersih pun menjadi Rp 215,76 miliar di 2025, berbanding terbalik dari rugi Rp 1,61 triliun sepanjang 2024.

Selain itu, LPCK juga mencatatkan pendapatan prapenjualan alias marketing sales Rp 1,65 triliun sepanjang 2025. 

Direktur LPCK, Indryanarum mengatakan, raihan itu setara dengan 100% dari target yang ditetapkan untuk tahun buku 2025. Realisasi prapenjualan sebesar Rp1,65 triliun pada tahun 2025 terutama didorong oleh tingginya permintaan produk residensial. 

Rumah tapak dan unit komersial masing-masing berkontribusi sebesar 58% dan 38% terhadap total marketing sales tahun lalu. Sementara, segmen lahan industri menyumbang 4%. 

“Sepanjang 2025, perseroan berhasil mencatatkan penjualan sebanyak 1.486 unit, didukung oleh peluncuran produk baru, antara lain The Allegra @Casa De Lago dan Neo Top,” ujarnya dalam keterbukaan informasi, Senin (2/3).

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan, selain dari segmen residensial, kinerja positif LPCK juga terbantu dari penjualan di kawasan industri. 

Sementara, kinerja LPKR sebagai holding sudah jenuh, terutama ditekan beban utang yang tinggi. 

“Jika restrukturisasi sukses, Meikarta bisa memperkuat kinerja LPCK dan LPKR,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (3/3).

Sentimen positif untuk LPKR dan LPCK adalah potensi penurunan suku bunga Bank Indonesia di semester II 2026 dan perpanjangan insentif PPN DTP hingga 2027.

“Sementara, sentimen negatif berasal dari inflasi yang memengaruhi biaya bangunan serta kondisi geopolitik yang memengaruhi minat investor asing,” katanya.

Alhasil, Nafan pun merekomendasikan speculative buy untuk LPKR dan LPCK dengan target harga masing-masing Rp 115 per saham dan Rp 910 per saham.

Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana melihat, pergerakan saham LPKR ada di level support Rp 96 per saham dan resistance Rp 101 per saham. Herditya merekomendasikan trading buy untuk LPKR dengan target harga Rp 107 – Rp 114 per saham.

Sedangkan, pergerakan saham LPCK ada di level support Rp 750 per saham dan resistance Rp 800 per saham. Rekomendasi speculative buy disematkan untuk LPCK dengan target harga Rp 835 – Rp 875 per saham.

Resiliensi Pasar Modal Indonesia di Tengah Gejolak Harga Minyak Global