
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia sekaligus menekan sejumlah mata uang Asia.
Bahkan, berdasarkan laporan terbaru pada awal Maret 2026, tim komoditas dari Barclays Bank Plc memperingatkan harga minyak mentah Brent bisa menembus level US$ 100 per barel apabila konflik semakin meluas.
Terkait hal ini, Research and Development ICDX, Taufan Dimas Hereva menilai, skenario tersebut perlu dicermati serius oleh pelaku pasar.
Jika harga minyak benar-benar melonjak hingga level tersebut, dampaknya berpotensi cukup dalam bagi negara-negara Asia yang bergantung pada impor energi.
Konflik Israel-Iran Berpotensi Mendongkrak Valas Aset Safe Haven
Menurut Taufan, negara seperti Korea Selatan, Singapura, dan India berisiko mengalami tekanan pada mata uangnya karena lonjakan biaya energi akan memperlebar defisit transaksi berjalan serta mendorong inflasi domestik.
“Won Korea, Dolar Singapura, dan Rupee India berisiko mengalami tekanan depresiasi karena kombinasi pelemahan fundamental eksternal dan potensi arus keluar modal,” ujar Taufan kepada Kontan, Jumat (6/3/2026).
Ia menjelaskan, kenaikan tajam harga minyak juga berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi kawasan. Hal ini lantaran lonjakan biaya energi dapat meningkatkan beban biaya produksi dan mengurangi daya beli domestik.
Dalam kondisi tersebut, sentimen investor terhadap aset berisiko di kawasan Asia cenderung melemah pada fase awal shock harga minyak.
Dari sisi kedalaman dampak, Taufan melihat rupee India berpotensi menjadi mata uang yang paling sensitif. Hal ini disebabkan tingginya ketergantungan India terhadap impor energi serta dampaknya yang langsung terasa pada defisit fiskal dan neraca transaksi berjalan.
Konflik Timur Tengah Picu Risk Off, Tapi Reli Valas Safe Haven Dinilai Terbatas
Sementara itu, won Korea Selatan juga dinilai cukup rentan karena struktur industri negara tersebut sangat padat energi dan bergantung pada ekspor manufaktur global.
Adapun dolar Singapura juga terpapar risiko eksternal, meskipun volatilitasnya relatif lebih terjaga. Taufan menjelaskan, kebijakan nilai tukar yang dikelola oleh Monetary Authority of Singapore cenderung mampu meredam gejolak yang terlalu ekstrem di pasar valuta asing.
Untuk prospek Semester I 2026, Taufan memperkirakan tekanan terhadap sejumlah mata uang Asia masih berpotensi berlanjut apabila harga minyak bertahan tinggi atau mendekati level US$ 100 per barel.
Meski demikian, ia menilai pelemahan yang terjadi kemungkinan bersifat bertahap dan tidak sampai memicu disrupsi tajam seperti pada periode krisis.
“Prospeknya akan sangat bergantung pada durasi konflik, respons OPEC+, serta kemampuan pemerintah masing-masing negara dalam menjaga stabilitas inflasi dan arus modal,” jelasnya.
Jika ketegangan geopolitik mereda dan harga minyak kembali stabil di bawah level ekstrem, Taufan menilai tekanan terhadap mata uang Asia berpotensi berkurang secara signifikan menjelang pertengahan 2026.
Valas Utama Berisiko Rentan Koreksi di Tengah Ketidakpastian Global