Krisis Selat Hormuz: Saham emiten logistik-energi siap melaju

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Sejumlah emiten yang bergerak di sektor logistik energi dalam negeri dinilai berada di posisi yang sangat diuntungkan secara langsung dari kondisi pengetatan pasokan minyak akibat meningkatnya ekskalasi konflik di Timur Tengah.

Head of Research PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi menilai dengan meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah memunculkan kekhawatiran serius terhadap kelancaran distribusi minyak global. Ancaman penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, berpotensi mengubah peta logistik energi secara drastis.

Jika Selat Hormuz dibatasi atau ditutup, jalur pengiriman minyak dunia harus berubah. Kapal-kapal tanker akan menempuh rute yang lebih jauh dari biasanya, sehingga jarak dan waktu pelayaran meningkat drastis.

: Nasib Harga Minyak Mentah dan BBM di Tengah Seruan Iran Tutup Selat Hormuz

Dengan kondisi tersebut, dia pun memperkirakan tarif sewa kapal tanker raksasa jenis Very Large Crude Carrier atau VLCC akan melonjak tajam dan berpotensi naik sangat cepat.

“Dalam kondisi seperti ini, perusahaan logistik energi dalam negeri berpeluang menjadi pihak yang paling diuntungkan secara langsung,” ujarnya, Senin (2/3/2026).

: : Menlu Sugiono Waspadai Rencana Iran Tutup Selat Hormuz

Hal itu dikarenakan karakter sahamnya yang sensitif terhadap sentimen atau high beta. Tak hanya itu, kenaikannya juga berpotensi lebih besar dibandingkan rata-rata pasar ketika sektor ini menguat.

Menurut Wafi sejumlah perusahaan pelayaran energi domestik dinilai berada di posisi strategis untuk menangkap peluang tersebut adalah PT Buana Lintas Lautan Tbk. (BULL), PT Soechi Lines Tbk. (SOCI), PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk. (HUMI), PT GTS Internasional Tbk. (GTSI).

: : Kapal Minyak dan Gas Mandek di Selat Hormuz Imbas Serangan AS-Israel ke Iran

Secara keseluruhan Muhammad Wafi, menilai investor perlu menerapkan strategi defensif dan selektif dalam menghadapi situasi ini.

Lebih jauh, jika Selat Hormuz ditutup, harga minyak Brent tidak hanya naik perlahan, tetapi bisa melonjak tajam. Menurutnya, saham PT Elnusa Tbk. (ELSA) yang bergerak di jasa penunjang migas berpotensi menjadi penerima manfaat utama dari peningkatan aktivitas tersebut.

Pasalnya dengan potensi harga minyak bertahan di atas US$90, PT Pertamina (persero) kemungkinan akan meningkatkan belanja modal (capex) untuk memaksimalkan produksi dalam negeri guna menekan impor.

Adapun Ketegangan geopolitik global kembali meningkat setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Teheran pada akhir pekan lalu. Iran disebut tengah menyiapkan serangan balasan, sementara konflik perbatasan juga pecah antara Pakistan dan Afghanistan. 

Situasi ini memicu kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di dua kawasan sekaligus.

Kondisi tersebut diperkirakan akan meningkatkan volatilitas pasar keuangan pada awal pekan ini, seiring pelaku pasar mulai memperhitungkan dampak konflik terhadap rantai pasok global dan stabilitas ekonomi.