Melemah tipis Rp 16.911, ekonom sebut rupiah tunjukkan sinyal positif

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Nilai tukar rupiah di pasar spot tak mampu keluar dari tekanan hingga akhir perdagangan hari ini. Rabu (25/3/2026), ditutup di level Rp 16.911 per dolar Amerika Serikat (AS).

Ini membuat rupiah melemah 0,08% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 16.898 per dolar AS.

Sementara itu, berdasarkan kurs referensi Bank Indonesia (Jisdor), rupiah menguat 0,45% dibandingkan perdagangan sebelum liburan panjang (17/3/2026), menjadi Rp 16.905 per dolar AS dari sebelumnya Rp 16.982 per dolar AS.

Global Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai, meskipun melemah, pergerakan rupiah usai libur panjang ini sejatinya masih menunjukkan sinyal yang cukup positif. 

“Rupiah sebenarnya pergerakannya cukup bagus karena sudah menjauhi level 17.000. Bahkan sempat bertahan di bawah 16.900, meskipun hari ini ada pelemahan tipis,” ujar Myrdal saat dihubungi Kontan, Rabu (25/3/2026).

BI Tahan Suku Bunga, Begini Prospek Rupiah

Menurutnya, pelemahan rupiah pada hari ini lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal dan teknikal. 

Salah satunya adalah aksi ambil untung (profit taking) oleh investor setelah periode libur panjang. Aktivitas ini tertunda karena pasar sempat tutup, sehingga baru terealisasi saat perdagangan kembali dibuka.

Selain itu, sentimen global yang masih diliputi ketidakpastian (uncertainty) turut menekan pergerakan rupiah. Sikap pelaku pasar yang cenderung menghindari risiko (risk averse) meningkat seiring belum meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait dinamika konflik Iran dengan Israel serta keterlibatan Amerika Serikat.

Untuk perdagangan Kamis (26/3/2026), Myrdal menilai pergerakan rupiah masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan harga minyak dunia. 

Rupiah Masih Melemah ke Rp 16.907 per Dolar AS di Siang Ini (25/3)

Saat ini, harga minyak Brent tercatat sudah turun ke bawah US$ 97 per barel, namun tetap menjadi faktor krusial bagi pasar.

Pasalnya, Indonesia merupakan negara net importir minyak, sehingga kenaikan harga minyak berpotensi memperlebar beban fiskal melalui peningkatan subsidi dan kompensasi energi. 

“Kalau harga minyak masih terus tinggi, tentu investor lebih memilih untuk keluar dari market negara net oil importer seperti kita ya,” imbuhnya.

Di sisi lain, pelaku pasar juga akan mencermati kebijakan pemerintah serta langkah stabilisasi yang ditempuh otoritas moneter, termasuk Bank Indonesia (BI). Arah kebijakan ini dinilai akan menjadi penentu sentimen rupiah dalam jangka pendek.

Maka untuk perdagangan Kamis (26/3/2026), Myrdal memprediksi rupiah bergerak di rentang support Rp 16.842 per dolar AS dan resistance di Rp 16.970 per dolar AS.

Rupiah Belum Lepas Tekanan, Ditutup Melemah ke Rp 16.911 Per Dolar AS di Rabu (25/3)