
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Kinerja pasar saham Tanah Air diproyeksikan masih berat ke depan. Hal itu salah satunya lantaran penilaian negatif dari lembaga pemeringkatan global.
Lembaga pemeringkat kredit internasional, Fitch Ratings merevisi outlook atau prospek peringkat kredit utang pemerintah Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil, meski tetap mempertahankan peringkat utang jangka panjang Indonesia di level BBB.
Berdasarkan dokumen yang beredar Rabu (4/3/2026) Fitch menilai perubahan outlook tersebut berkaitan dengan meningkatnya ketidakpastian kebijakan pemerintah dalam mengelola fiskal dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Fitch menyebut terdapat kekhawatiran terkait tergerusnya konsistensi dan kredibilitas bauran kebijakan ekonomi Indonesia di tengah meningkatnya sentralisasi kewenangan pengambilan kebijakan.
IHSG Ambruk 4,57%! Simak Rekomendasi Saham ASII, GOTO, TINS untuk Kamis (4/3)
“Kondisi ini berpotensi melemahkan prospek fiskal jangka menengah, menekan sentimen investor, serta meningkatkan risiko terhadap ketahanan sektor eksternal,” tulis Fitch dalam laporannya, Rabu (4/3/2026).
Tim Riset MNC Sekuritas melihat, revisi prospek kedaulatan Indonesia dari stabil menjadi negatif oleh Fitch Ratings, menyusul tindakan serupa oleh Moody’s sebulan sebelumnya. Ini menandakan meningkatnya kekhawatiran atas ketahanan fiskal di tengah melemahnya kinerja pendapatan, meningkatnya komitmen pengeluaran, dan lingkungan eksternal yang lebih menantang.
”Meskipun Indonesia mempertahankan peringkat layak investasi, keseimbangan risiko telah condong ke sisi negatif, dengan implikasi terhadap premi risiko kedaulatan, imbal hasil obligasi, dan stabilitas nilai tukar,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (4/3).
Prospek negatif Indonesia dari Fitch mencerminkan peningkatan kerentanan fiskal dan eksternal daripada penurunan kualitas kredit yang akan segera terjadi.
Status layak investasi kedaulatan tetap utuh, tetapi kredibilitas kebijakan dan disiplin fiskal sekarang berada di bawah pengawasan ketat.
“Harga minyak yang terus tinggi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, tekanan baru pada rupiah, dan perlambatan pertumbuhan global dapat memperparah tekanan fiskal dan secara material meningkatkan risiko penurunan peringkat,” tuturnya.
Lebih lanjut, Tim Riset MNC Sekuritas melihat, perkembangan terkini telah mendorong penyesuaian harga yang moderat namun luas di pasar SUN, dengan imbal hasil meningkat sekitar 3–10 basis poin (bps) secara bulanan, terutama pada jangka pendek. Hal ini mencerminkan premi jangka panjang yang lebih tinggi dan posisi investor yang lebih hati-hati.
Dalam jangka menengah, disiplin fiskal yang berkelanjutan kemungkinan besar akan menghasilkan volatilitas yang lebih rendah dan normalisasi premi risiko secara bertahap.
“Sebaliknya, kepatuhan yang lebih lemah terhadap aturan fiskal atau pengeluaran agresif di awal dapat membuat kurva tetap berada di bawah tekanan dan mempertahankan sensitivitas yang tinggi terhadap guncangan global,” katanya.
Ekonom Panin Sekuritas, Muhammad Zaidan mengatakan, keputusan Fitch ini serupa dengan Moody’s, yang mana kedua institusi ini tidak memangkas rating terhadap soverign bond Indonesia, namun menurunkan outlook-nya saja.
Untuk kasus Fitch, mereka mempertahankan peringkat Issuer Default Rating (IDR) di level BBB dengan merevisi outlook dari stabil menjadi negatif.
“Perubahan outlook ini didorong oleh kekhawatiran terkait konsistensi serta kredibilitas bauran kebijakan Indonesia yang dipandang mulai tergerus seiring dengan semakin terpusatnya proses pengambilan keputusan,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (4/3).
Di sisi lain, peringkat ‘BBB’ berhasil dipertahankan karena Indonesia terbukti memiliki rekam jejak stabilitas makroekonomi yang baik, proyeksi pertumbuhan jangka menengah yang stabil di kisaran 5,0%, serta rasio utang pemerintah terhadap PDB yang moderat di level 40% PDB dan masih berada di bawah rata-rata negara sebayanya.
Meskipun demikian, terdapat kerentanan kondisi fiskal yang mana realisasi penerimaan negara yang tercatat lemah, tingginya debt service ratio atau proprosi bunga dan pokok utang terhadap pendapatan, dan indikator tata kelola yang lebih tertinggal dibandingkan negara-negara dengan peringkat ‘BBB’ lainnya.
Situasi ini berpotensi melemahkan prospek fiskal jangka menengah dan cenderung meningkatkan persepsi risiko pasar terhadap Indonesia. “Hal ini tercermin dalam kenaikan CDS dan yield SBN tenor jangka panjang,” tuturnya.
Menurut Zaidan, sentimen Fitch lebih signifikan terhadap pasar obligasi atau SBN. Hanya saja masih terdapat efeknya terhadap kepada pasar saham atau IHSG.
Penurunan outlook oleh Fitch Ratings ini berpotensi menekan kinerja IHSG utamanya melalui kanal sentimen pasar. Penurunan outlook dapat menurunkan persepsi risiko investor dan membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam mengambil posisi, yang pada akhirnya menahan ataupun menarik aliran dananya.
Perlu diketahui juga saat ini eskalasi militer antara Iran dan AS-Israel masih tengah berlangsung, dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sendiri memperkirakan akan berlangsung hingga lima pekan.
Hal tersebut akan menciptakan volatilitas terhadap harga minyak global. Indonesia sebagai net importir minyak mentah tentunya memiliki posisi yang kurang menguntungkan, yang mana berpotensi meningkatkan ekspektasi inflasi dan turut mempengaruhi BI untuk tetap mempertahankan suku bunganya.
“Alhasil, sentimen makro yang akomodatif cukup terbatas untuk saat ini,” tuturnya.
Zaidan memperkirakan, skenario terburuk IHSG untuk dapat bergerak menuju level 7.390 dalam kurun waktu terdekat ini.
“Dengan kondisi geopolitik yang kurang mendukung dan potensi aksi penilaian oleh S&P Global yang diperkirakan memiliki keputusan yang serupa, pasar cenderung memantau aset safe haven sebagai alternatif, termasuk emas dan obligasi pemerintah,” paparnya.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, penurunan rating dari Fitch membuat outlook pasar saham Indonesia menjadi bearish dalam jangka pendek-menengah.
“Revisi outlook ini menunjukkan kekhawatiran risiko fiskal dan utang, sehingga aliran dana asing bisa meningkat,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (4/3).
Penurunan IHSG diperkirakan masih akan tertekan sampai tercapainya ekuilibrium baru, terutama dari nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Diproyeksikan, IHSG di kuartal I 2026 ada di kisaran 7.500 – 7.000. Sementara, IHSG bakal ada di kisaran 7.500 – 8.000 di akhir semester I.
Menurut Wafi, sektor yang terdampak negatif adalah sektor perbankan sebagai proksi utama indeks yang dilepas asing, serta sektor properti dan konstruksi akibat potensi kenaikan cost of funds (CoF).
Sementara, sektor yang resilien adalah sektor energi (migas atau batu bara) dan logam mulia (emas).
“Sektor tersebut diuntungkan penguatan dolar AS dan berfungsi sebagai hedging terhadap inflasi serta risiko geopolitik,” tuturnya.
Investor pun disarankan untuk tetap defensif. Mereka bisa mengalokasikan portofolio pada aset safe haven (emas) atau emiten komoditas dengan kas dolar AS kuat.
Wafi pun merekomendasikan beli untuk ANTM, MEDC, dan ICBP dengan target harga masing-masing Rp 5.000 per saham, Rp 2.450 per saham, dan Rp 10.800 per saham.
IHSG Berpotensi Rebound pada Kamis (5/3), Simak Saham Rekomendasi Analis