Minat ke emiten fundamental kuat meningkat, simak rekomendasi saham penghuni LQ45

Ussindonesia.co.id   JAKARTA. Prospek saham-saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45 dinilai tetap positif, seiring meningkatnya minat investor pada emiten berfundamental kuat.

Pada perdagangan Rabu (4/2/2026), indeks LQ45 berada di level 832,795 atau naik tipis 1,1% dari hari sebelumnya. Meski begitu, secara year to date (ytd) indeks ini masih turun 1,63%.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai dalam skenario optimistis indeks LQ45 berpeluang bergerak hingga level 936 pada 2026.

IHSG Rawan Terkoreksi, Simak Rekomendasi Saham dari MNC Sekuritas, Kamis (29/1)

Pendorongnya antara lain kembalinya minat pasar ke saham-saham berfundamental solid yang dinilai memiliki peluang meningkatkan pendapatan dan laba bersih.

Dukungan juga datang dari kondisi makroekonomi. Tren suku bunga acuan yang cenderung turun berpotensi menekan biaya pinjaman dan meningkatkan likuiditas.

“Kondisi ini bagus untuk mendorong likuiditas,” ujar Nafan, Rabu (4/2/2026).

Selain itu, kebijakan free float minimal 15% serta peningkatan transparansi data kepemilikan saham oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai memperbaiki kualitas pasar. 

IHSG Diwarnai Sentimen Pertemuan BEI dan MSCI, Simak Rekomendasi Saham Hari ini

Aturan ini mendorong keterbukaan emiten dan penguatan tata kelola, sehingga kepercayaan investor, khususnya institusi domestik dan global, meningkat. Sinyalnya terlihat dari derasnya aliran dana asing ke saham big caps LQ45. 

Nafan menambahkan, fundamental ekonomi Indonesia masih relatif solid. Pasar saham juga memasuki musim pembagian dividen, di mana sejumlah emiten LQ45 dijadwalkan menyalurkan dividen kepada pemegang saham.

  BBCA Chart by TradingView  

Pandangan serupa disampaikan Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder Pasardana, Hans Kwee.

Menurutnya, investor kini mengalihkan dana ke saham berfundamental kuat, termasuk institusi besar seperti Danantara, BPJS Ketenagakerjaan, dan dana pensiun. 

Minat Investor Meningkat, Saham LQ45 Dinilai Punya Prospek Positif pada 2026

“Ada risiko saham gorengan diusut atau diperiksa OJK, sehingga investor beralih ke saham dengan fundamental bagus,” ujarnya.

Hans melihat peluang penguatan saham-saham LQ45 cukup terbuka, apalagi valuasi emiten big caps Indonesia masih tergolong murah.

Ia merekomendasikan saham BBCA, TLKM, ASII, BMRI, BBRI, dan BBNI, serta saham sektor emas dan pertambangan.

Nafan menilai BBCA tetap menarik bagi investor jangka panjang karena stabilitas kinerja dan dividen. “BBCA masih menarik untuk kombinasi stabilitas dan imbal hasil,” katanya. 

Sementara BBNI dinilai berpeluang meningkatkan pendapatan berbasis komisi seiring upaya menjaga kualitas aset, ekspansi pembiayaan, dan penguatan layanan digital.

Investor Dinilai Mulai Melirik Saham Fundamental, Prospek Indeks LQ45 Bakal Cerah?

Dari sisi dividen, PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP) juga mencuri perhatian.

Dengan kebijakan cukai rokok yang diperkirakan stabil pada 2026, laba bersih HMSP diproyeksikan tumbuh hingga 41% atau sekitar Rp 8 triliun. 

Emiten ini dikenal dengan payout ratio tinggi, mendekati 100%, sehingga potensi imbal hasil dividen diperkirakan bisa mencapai sekitar 8,94%.

Pilihan lain adalah PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Sebagai bagian dari ekosistem MIND ID, INCO berpeluang memperluas kolaborasi di rantai pasok baterai nasional.

Kemitraan dengan Huayou dan Ford turut memperkuat posisinya sebagai produsen nikel utama untuk industri kendaraan listrik. 

Pembatalan B50 Menekan Fundamental Emiten CPO, Simak Rekomendasi Analis Berikut

Saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga dinilai menarik berkat fokus integrasi fixed mobile convergence (FMC) dan penguatan bisnis digital.

Atas dasar itu, Nafan merekomendasikan akumulasi beli BBCA, BBNI, HMSP, dan TLKM dengan target harga jangka panjang masing-masing Rp 9.750, Rp 5.600, Rp 975, dan Rp 4.290 per saham.

Ia juga merekomendasikan add INCO dengan target harga jangka panjang Rp 7.625 per saham.