Outlook 2026 moderat, kolektor mulai tahan belanja barang mewah

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Industri barang mewah global diperkirakan memasuki fase transisi pada 2026 dengan pertumbuhan yang lebih moderat. Di Indonesia sendiri pangsa pasar barang mewah seperti lukisan, seni, dan tas mewah juga belum nampak semarak

Perubahan perilaku konsumen, tekanan ekonomi, hingga meningkatnya ketidakpastian geopolitik menjadi faktor yang membayangi laju ekspansi sektor ini.

Berdasarkan laporan Global Luxury Industry Outlook 2026 dari firma konsultan global Kearney, pertumbuhan industri barang mewah pada 2026 diproyeksikan hanya berada di kisaran 2%-4%. 

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan sejumlah proyeksi eksternal yang memperkirakan pertumbuhan 3%-5%. Perlambatan ini terjadi seiring meningkatnya kehati-hatian konsumen dalam membelanjakan dana untuk kebutuhan diskresioner. 

Dari dalam negeri pada segmen barang koleksi lukisan, Gallery Director dan Co-Founder RUCI Art Space, Rio Pasaribu, mengungkapkan bahwa pada awal tahun ini pihaknya telah menggelar pameran kelompok (group exhibition). Namun dilihat dari sisi jumlah pengunjung, tidak terjadi peningkatan signifikan.

Dari sisi transaksi, karya dari seniman yang sudah memiliki nama tetap menjadi yang paling cepat terjual. Salah satu karya dari perupa perempuan, misalnya, mampu terjual dengan kisaran harga Rp 30 juta hingga Rp 40 juta per lukisan.

Pasar Barang Mewah Stagnan, Kolektor Kian Selektif Berburu Nilai

Namun demikian, Rio menilai kondisi pasar seni tetap terdampak oleh situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian. Tekanan dari gejolak geopolitik, pelemahan rupiah, hingga kenaikan harga kebutuhan membuat daya beli masyarakat melemah.

Ia menyebut, bahkan kolektor yang secara finansial relatif tidak terdampak pun kini cenderung lebih berhati-hati dalam bertransaksi.

“Perilaku atau behavior pembeli berubah. Kalau sebelumnya cenderung impulsif, sekarang pembeli lebih banyak mempelajari dulu seniman dan karyanya sebelum membeli, jadi tidak impulsif lagi,” ujar Rio saat dihubungi Kontan, Jumat (17/4/2026).

Dengan kondisi tersebut, Rio menegaskan bahwa karya seni, termasuk lukisan, belum bisa dianggap sebagai alternatif investasi yang menarik di tengah krisis global saat ini.

Riset Kearney tersebut menjabarkan dari sisi kategori, segmen pengalaman diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan industri barang mewah. Hotel dan restoran mewah diproyeksikan mencatat pertumbuhan tertinggi dengan compound annual growth rate (CAGR) sekitar 8% hingga 2028.

Selain itu, sektor perhiasan diperkirakan tumbuh sekitar 7% dan tetap menunjukkan daya tahan yang kuat. Kategori kecantikan dan aksesori juga diproyeksikan tumbuh stabil di kisaran menengah satu digit. 

Kalau menyisir dari segmen tas luxury, kolektor tas mewah Rita Efendy menyebut pasar tas mewah di kuartal I-2026 masih bertahan, tapi lebih selektif.

“High net worth masih beli untuk jaga nilai, sementara kelas menengah cenderung tahan atau jual koleksi. Tapi yang menarik, terjadi pergeseran untuk middle class ke bawah suka cari preloved,” jelas Rita.

Tak Lagi Impulsif, Kolektor Lukisan Kian Selektif di Tengah Tekanan Ekonomi

Rita pun bercerita, sejumlah merek tertentu masih menjadi primadona di pasar kolektor. Tas dari Hermès, khususnya seri Birkin dan Kelly, dinilai memiliki daya tahan nilai yang sangat kuat, dengan harga yang bisa mencapai ratusan juta rupiah hingga di atas Rp 1 miliar.

Selain itu, produk dari Chanel juga tengah mengalami peningkatan permintaan. Hal ini seiring hadirnya desainer baru, Matthew Blazy, yang dinilai sukses menghadirkan koleksi terbatas yang banyak diburu kolektor.

Sementara itu, merek lain seperti Louis Vuitton (LV), Dior, Bottega Veneta, dan Fendi cenderung menunjukkan pergerakan harga yang lebih stabil.

Lebih lanjut Kearny mencatat industri barang mewah global mencatat pertumbuhan yang stabil dan moderat, dengan nilai mencapai sekitar US$ 530 miliar pada tahun 2025.

“Namun, tahun 2025 bukan sekadar periode moderasi. Tahun tersebut menjadi fase penyesuaian ulang (recalibration),” terang riset tersebut.

Untuk sepanjang sisa tahun 2026, prospek industri tas mewah pada 2026 diperkirakan masih relatif stabil. Rita menyebut tas dengan model klasik dan bersifat timeless dinilai tetap memiliki daya tahan nilai yang kuat. 

Sebaliknya, produk yang bersifat tren atau trendy items cenderung lebih volatil mengikuti dinamika selera pasar.

Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) maupun euro turut menjadi faktor yang memengaruhi harga tas mewah di pasar domestik. Kenaikan harga ini secara tidak langsung justru meningkatkan nilai aset bagi kolektor yang telah lebih dulu memiliki koleksi tas tersebut.

“Dengan demikian, tidak semua tas mewah dapat dikategorikan sebagai alternatif aset. Hanya produk-produk tertentu yang memiliki nilai koleksi tinggi dan konsisten dalam jangka panjang,” tambah Rita.

Sedangkan Rio berpandangan prospek pasar lukisan hingga akhir 2026 juga dibayangi tekanan. Rio memperkirakan permintaan berpotensi tidak hanya stagnan, tetapi juga bisa menurun apabila kondisi ekonomi tidak segera membaik. 

“Bukan berarti tidak punya uang, tapi mereka lebih berhati-hati dalam spending, terutama untuk barang mewah seperti lukisan,” pungkas Rio.

Industri Barang Mewah Masuk Fase Transisi, Pertumbuhan 2026 Diproyeksi Melambat