
Ussindonesia.co.id , JAKARTA – Pelonggaran BI rate dinilai bisa menjadi momentum emiten melakukan penawaran umum perdana (IPO). Secara teori, penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia akan menurunkan cost of capital, meningkatkan likuiditas pasar, serta mendorong investor beralih ke aset berisiko seperti saham, sehingga memperkuat minat terhadap IPO sebagai instrumen ekuitas baru.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas M. Nafan Aji Gusta menilai, ada kemungkinan Bank Indonesia pada semester kedua tahun ini akan memangkas suku bunga acuan sampai dengan 50 basis poin (bps). Pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia Februari 2026, bank sentral memutuskan menahan BI Rate di 4,75%.
“Tentunya kalau saat ini BI rate belum diturunkan, jadi wajar [jumlah IPO sampai Februari 2026 masih kosong],” kata Nafan kepada Bisnis, Rabu (25/2/2026).
: REI DKI Dorong 25 Pengembang Properti IPO, Bidik Dana Rp5 Triliun
Sampai Februari, belum ada emiten yang go public di 2026 ini. Berbeda dengan periode yang sama 2025, di mana saat itu ada 8 emiten go public. Namun, dalam pipeline IPO Bursa Efek Indonesia (BEI) per 20 Februari 2026, terdapat 8 perusahaan bersiap IPO, yang 5 di antaranya merupakan perusahaan skala besar dan 3 skala menengah.
“Jadi, nanti di semester kedua BI rate diturunkan maksimum 50 bps, ini bisa meningkatkan risk appetite ke IPO. IPO ini kan aset baru,” jelas Nafan.
: : REI Dorong Pengembang IPO: Jangan Cuma Andalkan Pembiayaan Bank
Nafan melanjutkan, sepinya IPO pada awal 2026 ini juga kemungkinan disebabkan faktor teknis di mana emiten sedang menunggu hasil audit laporan keuangan setahun penuh 2025. Apalagi, sambungnya, hal ini berkaitan dengan perusahaan skala besar, 5 calon emiten go public di pipeline BEI.
Menurutnya, hasil laporan diaudit tersebut akan bisa memberikan valuasi yang lebih akurat dan meningkatkan kepercayaan investor ketika calon emiten resmi melantai di bursa. Apalagi, saat ini transparansi dan tata kelola pasar modal Indonesia sedang menjadi sorotan asing imbas pembekuan indeks oleh MSCI.
: : BEI Sebut 8 Perusahaan Masuk Antrean IPO, 5 Aset Skala Besar
“Dalam hal ini, pemenuhan free float harus minimal 15%, sehingga kalau sudah IPO ini saham-saham yang likuid sehingga bisa meningkatkan minat pelaku investor untuk mengakumulasi saham-saham IPO tersebut,” tandasnya.