
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Harga perak mulai menunjukkan rebound pada perdagangan Jumat (27/3/2026), dengan kenaikan harian sekitar 1,3%.
Namun secara bulanan, melansir Trading Economics pukul 16.40 WIB, Jumat (27/3/2026), kinerja harga logam ini masih tertekan cukup dalam, bahkan tercatat turun hingga 22,8% ke level US$ 68,9 per ons troi.
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, tekanan pada harga perak terutama dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Kondisi ini mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia yang kemudian memicu sentimen risk off di pasar global.
“Selain itu, kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global juga turut menekan harga perak,” ujar Lukman kepada Kontan, Jumat (27/3/2026).
Rupiah Bergerak Loyo di Akhir Pekan, Analis Prediksi Tekanan Akan Berlanjut
Lukman menambahkan, rebound harga perak dalam jangka pendek saat ini lebih bersifat teknikal dan didorong oleh aksi spekulatif bargain hunting, seiring harga yang sudah terkoreksi cukup dalam.
Untuk prospek ke depan, Lukman melihat tren harga perak masih berpeluang melanjutkan kenaikan, namun dengan catatan adanya perbaikan kondisi global. Di antaranya jika konflik geopolitik mereda dan harga minyak mentah kembali turun.
Di sisi fundamental, permintaan fisik perak dinilai tetap kuat, terutama dari sektor energi terbarukan seperti industri panel surya. Hal ini menjadi salah satu faktor yang menopang prospek jangka panjang logam tersebut.
Meski demikian, Lukman mengingatkan bahwa volatilitas harga perak masih akan tinggi dalam waktu dekat.
Risiko penurunan harga (downside) masih terbuka, meskipun peluang kenaikan dalam jangka panjang tetap terjaga.
Pergerakan Valas Asia Fluktuatif, Rupiah Masih Tertekan
Dus, Lukman pun menyarankan investor untuk melakukan akumulasi secara bertahap dengan tetap memperhatikan risiko pasar.
Untuk proyeksi, Lukman memperkirakan harga perak akan bergerak dalam kisaran US$ 65 hingga US$ 80 per ons troi pada semester I 2026.