OJK singgung laju lemah LQ45, peluang rotasi ke saham blue chip terbuka?

Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan catatan khusus terhadap kinerja indeks saham berkapitalisasi besar yakni LQ45 yang tertinggal jauh dari laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang 2025.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 30 Desember 2025, indeks komposit atau IHSG mampu tumbuh 22,13% sepanjang tahun berjalan. Sementara itu, LQ45 hanya mencatat kenaikan 2,41% year to date (YtD).

Capaian itu pun disinggung oleh Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar saat seremoni pembukaan perdagangan bursa pada 2 Januari 2025.

: OJK Soroti Blue Chip LQ45 Cuma Naik Mini pada 2025

“Indeks LQ45 yang berisi saham-saham perusahaan terbesar dan menjadi rujukan investasi fund manager global maupun domestik hanya tumbuh 2,41%, jauh di bawah kenaikan IHSG,” ucap Mahendra Siregar.

Tertinggalnya indeks LQ45 disebabkan oleh dinamika pasar 2025 yang lebih banyak digerakkan oleh saham berkapitalisasi menengah dan kecil, sementara saham blue chips cenderung tertahan oleh aksi jual bersih investor asing.

: : Blue Chip LQ45 Mau Rebound 2026, Saham Lapis Dua Minggir Dulu?

Data BEI menunjukkan bahwa indeks papan akselerasi menjadi jawara dengan lonjakan fantastis mencapai 162,81% sepanjang tahun berjalan.Tren serupa diikuti oleh indeks papan pengembangan yang melesat 111,48% YtD. 

Performa kedua papan tersebut melaju jauh melampaui indeks papan utama yang membukukan kenaikan moderat sebesar 12,10% sepanjang tahun ini.

: : Kans Saham LQ45 Bersinar pada 2026 Kala Suku Bunga Rendah

Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Chory Agung Ramdhani, menjelaskan arus modal keluar asing menjadi salah satu faktor penekan saham-saham berkapitalisasi jumbo.

Seiring hal tersebut, penggerak utama pasar tahun ini justru datang dari emiten yang berafiliasi dengan grup konglomerasi besar yang tengah gencar melakukan ekspansi di sektor hilirisasi dan energi terbarukan.

Banyak dari emiten ini juga belum masuk ke dalam indeks elite seperti LQ45 atau IDX30 karena terbentur kriteria likuiditas maupun periode pencatatan.

“Investor ritel cenderung lebih lincah masuk ke saham-saham mid-caps yang memiliki volatilitas tinggi. Akibatnya, kinerja indeks Small-Mid Cap (SMC) melesat jauh,” ucapnya saat dihubungi Bisnis, Selasa (30/12/2025).

Memasuki tahun 2026, Chory memproyeksikan akan terjadi rotasi arus kas kembali ke saham-saham unggulan. Peluang berbaliknya kondisi pasar didorong oleh antisipasi pengumuman laba tahun penuh 2025 yang diprediksi tetap solid.

Ekspektasi pembagian dividen juga diperkirakan akan menjadi daya tarik utama bagi kembalinya investor asing ke pasar Indonesia. Hal ini diharapkan mampu memicu momentum January Effect yang didorong akumulasi saham blue chip.

“Emiten blue chip perbankan besar dan konsumer diproyeksi mencetak laba solid, sehingga ekspektasi dividen akan menjadi magnet,” ucap Chory. 

________ 

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.