
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa masyarakat semakin tipis menyisihkan pendapatan untuk belanja dan semakin banyak yang menabung pada Februari 2026.
Berdasarkan data Survei Konsumen BI Februari 2026, rata-rata porsi pendapatan masyarakat yang digunakan untuk konsumsi turun ke level 71,6%. Angka ini merosot dibandingkan posisi bulan sebelumnya yang masih mencatatkan angka 72,3%.
Bahkan, jika ditarik data historis lebih jauh ke belakang maka level 71,6% itu merupakan rekor terendah baru sejak Desember 2020 atau enam tahun lalu, yang mana porsi konsumsi sempat menyentuh 69,0% akibat hantaman pandemi Covid-19.
: Strategi Kemenkeu Genjot Konsumsi Ungkit Daya Beli Masyarakat Turun
Penurunan porsi belanja ini diikuti peningkatan alokasi pendapatan yang dialihkan untuk tabungan. Data BI menunjukkan, proporsi pendapatan yang disimpan (tabungan) pada Februari 2026 ada di level 17,7%, naik dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 16,5%.
Menarik, sejalan dengan penurunan porsi uang belanja masyarakat, data historis pendapatan masyarakat untuk ditabung di level 17,7% itu menjadi yang tertinggi sejak Desember 2020. Saat itu, proporsi pendapatan untuk tabungan mencapai 20,8%.
: : Prabowo Bertemu Apindo, Bahas Konsumsi Rumah Tangga Naik Imbas MBG
Selain itu, masyarakat tampak mengurangi beban untuk pembayaran utang. Rasio pembayaran cicilan pinjaman terhadap pendapatan tercatat turun menjadi 10,6% pada Februari 2026, dibandingkan 11,2% pada bulan sebelumnya.
Secara demografi pendapatan, aksi tahan uang paling kencang dilakukan oleh kelompok masyarakat kelas menengah-atas.
: : Survei BI: Pengeluaran Konsumsi Masyarakat Terendah dalam 6 Tahun!
Kelompok dengan pengeluaran di atas Rp5 juta per bulan mencatatkan penurunan porsi konsumsi paling dalam, yaitu hanya 68,8% dari total pendapatan mereka.
Sebaliknya, kelompok masyarakat bawah dengan pengeluaran Rp1-2 juta per bulan menjadi yang paling banyak mengeluarkan pendapatnya untuk kebutuhan hidup, dengan rasio konsumsi yang masih tinggi di level 72,9%.
Purbaya Klaim Konsumsi Masih Baik
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyidak Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat pada Senin (9/3/2026) untuk memantau langsung daya beli masyarakat.
Purbaya mengaku tertarik mengecek langsung Pasar Tanah Abang karena banyak ekonom yang sebut ekonomi sedang resesi, daya beli menurun, hingga pasar-pasar sepi.
“Saya pengin cek karena kalau data-data kita, ekonomi lagi bagus. Harusnya kan di Tanah Abang, segala macam, ada pembelinya. Saya mau cek itu aja betul apa enggak. Ternyata betul, daya beli masih ada, orang masih belanja, itu pasar juga masih ramai,” katanya ditemui usai keliling Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta, Senin (9/3/2026).
Oleh sebab itu, dia mengklaim daya beli sedang membaik. Purbaya membantah pernyataan sejumlah ekonom yang menyatakan ekonomi Indonesia menuju resesi, apalagi krisis.
“Teman-teman enggak usah takut. Nanti kalau harga minyak dunia naik pun kita akan coba absorb lewat APBN dan kita akan kendalikan semaksimal mungkin,” ujarnya.