
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) mencetak kinerja positif pada tahun 2025. Program makan bergizi gratis (MBG) diproyeksi menjadi salah satu katalis pendorong kinerja CMRY pada tahun 2026.
Baruna Arkasatyo, Analis CGS International Sekuritas Indonesia mencatat bahwa manajemen CMRY menargetkan pertumbuhan penjualan 10% sampai 15% secara year on year (yoy) pada tahun 2026, Gross Profit Margin (GPM) 40% sampai 44%, serta rasio beban penjualan dan pemasaran terhadap penjualan sebesar 22%. Untuk menyesuaikan dengan panduan manajemen tersebut, Baruna memproyeksikan pertumbuhan pendapatan CMRY tahun 2026 menjadi 16% dari yang sebelumnya memproyeksikan naik 14%.
“Karena kami memperkirakan CMRY akan lebih diuntungkan dari program makan bergizi gratis pemerintah,” ujar Baruna saat dikonfirmasi, Selasa (17/3/2026).
Astrindo (BIPI) Lanjutkan Transformasi Energi, Ekspansi ke LNG dan EBT Jadi Katalis
Baruna mengaku cukup terkejut dengan panduan GPM yang lebih rendah dari perkiraan dimana dalam panduan sebelumnya sekitar 42%-44%. Hal ini disebabkan oleh perubahan bauran produk dan kenaikan harga bahan baku. Akibatnya, CGS International Sekuritas menurunkan proyeksi GPM tahun 2026 menjadi 43% (dari yang sebelumnya 45%).
Baruna juga menurunkan asumsi rasio beban penjualan dan pemasaran terhadap penjualan tahun 2026 dari 22% menjadi 21%, mengingat belanja iklan dan promosi yang sudah cukup tinggi. Serta fakta bahwa program makan bergizi gratis pemerintah tidak memerlukan tambahan belanja iklan dan promosi untuk mendorong penjualan.
Bernie Chew, Analis UBS Sekuritas Indonesia mengatakan bahwa Cimory telah mulai memasok program MBG pemerintah mulai kuartal I – 2026 menggunakan kapasitas pengolahan susu yang ada. Meskipun margin MBG lebih rendah daripada penjualan komersial, volumenya tetap kecil dan tidak dianggap sebagai pendorong keuntungan.
“Yang terpenting, manajemen tidak melihat adanya kanibalisasi permintaan; sebaliknya, MBG meningkatkan konsumsi susu melalui peningkatan kesadaran dan kebiasaan, dengan dampak positif pada permintaan ritel,” jelas Bernie dalam risetnya pada 2 Maret 2026.
Prospek Kinerja BSDE di 2026 Solid, Marketing Sales Rp 10 Triliun Berpotensi Tercapai
Bernie mengatakan, kenaikan harga susu segar domestik yang didorong oleh permintaan MBG juga dipandang positif. Karena hal itu mendorong investasi petani dan mendukung tujuan jangka panjang untuk meningkatkan swasembada susu Indonesia. Dalam hal persaingan ritel, perluasan saluran ritel baru (termasuk format koperasi) dapat menguntungkan saluran general trade (GT) Cimory dengan menambah titik gerai baru.
“Tidak ada pengaturan harga khusus yang terkait dengan saluran yang terkait dengan pemerintah,” imbuhnya.
Yodhita Maureen Romindo, Analis Mirae Asset Sekuritas melihat bahwa manajemen tetap berhati-hati terhadap tantangan makro, khususnya pada volatilitas harga susu bubuk utuh dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Perusahaan menegaskan kembali ambisinya selama lima tahun untuk menggandakan pendapatannya melalui Compound Annual Growth Rate (CAGR) sekitar 15%, dengan 5% sampai 10% berasal dari Same-Store Sales Growth (SSSG) atau Pertumbuhan Penjualan Toko yang Sama, 5% sampai 10% dari ekspansi general trade (GT) atau miss cimory (MCM), dan sekitar 5% dari inovasi produk.
“Sementara ekspor dan saluran ritel baru dianggap sebagai pengungkit peningkatan,” ucap Yodhita dalam risetnya pada 16 Maret 2026.
Yodhita merevisi perkiraan pendapatan tahun 2026 – 2027 untuk menangkap momentum pendapatan dari segmen susu yang pulih, khususnya lini yogurt tanpa tambahan gula dan UHT yang baru. Serta peningkatan volume dari partisipasi CMRY dalam program susu makan bergizi gratis (MBG) pemerintah, sambil menjaga margin kotor secara umum selaras dengan panduan manajemen sebesar 40% – 44% di tengah tekanan bahan baku dan nilai tukar yang diantisipasi.
IHSG Rebound ke 7.100-an, Analis Sarankan Sikap Defensif Jelang Libur Panjang
“Asumsi baru kami menyiratkan pendapatan tahun 2026 sebesar Rp 12,3 triliun (naik 4,2%) dan tahun 2027 sebesar Rp 14,2 triliun (naik 6,1%), tetapi perkiraan laba bersih sedikit lebih rendah sebesar Rp 2,3 triliun pada 2026 dan Rp 2,8 triliun pada 2027, yang mencerminkan asumsi margin dan pendapatan keuangan yang lebih konservatif,” jelas Yodhita.
Seperti diketahui, CMRY mengantongi laba bersih sebesar Rp 2,03 triliun, tumbuh 33,80% secara yoy pada tahun 2025. Pada saat yang sama, penjualan bersih CMRY mengalami kenaikan sebesar 18,82% yoy menjadi Rp 10,72 triliun dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Baruna merekomendasikan Add saham CMRY dengan target harga Rp 5.800 per saham. Bernie dan Yodhita merekomendasikan buy saham CMRY dengan target harga masing – masing Rp 6.800 per saham dan Rp 6.200 per saham.
Adapun katalis positif CMRY adalah pertumbuhan produk susu dan makanan kemasan yang lebih kuat dari perkiraan. Sementara risiko yang perlu dicermati antara lain kenaikan harga bahan baku, peningkatan belanja iklan dan promosi, serta persaingan yang semakin ketat.