
Ussindonesia.co.id – , JAKARTA — Mayoritas pejabat Federal Reserve kini melihat peluang kenaikan maupun penurunan suku bunga yang sama besar di tengah tekanan inflasi energi dan risiko pelemahan ekonomi. Pergeseran kebijakan moneter AS ini menyusul ketidakpastian dampak konflik di Timur Tengah.
Melansir Kitco, Kamis (9/4/2026), risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 17–18 Maret yang dirilis Rabu (8/4) menunjukkan para pejabat The Fed semakin berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan.
Lonjakan harga energi akibat konflik Iran menjadi faktor utama yang mengaburkan prospek inflasi dan pertumbuhan.
: Powell: Ekspektasi Inflasi Masih Terkendali, The Fed Pilih Wait and See
“Banyak peserta menilai risiko terhadap inflasi meningkat, sementara risiko terhadap ketenagakerjaan juga memburuk,” tulis risalah tersebut seperti dikutip Kitco.
Pasar keuangan merespons dengan kenaikan ekspektasi suku bunga, tercermin dari naiknya imbal hasil obligasi pemerintah tenor pendek. Kenaikan yield terutama didorong oleh meningkatnya kompensasi inflasi seiring kekhawatiran lonjakan harga energi dalam jangka pendek.
: : The Fed Tahan Suku Bunga Acuan dalam FOMC Maret 2026
“Pergerakan ini terutama mencerminkan meningkatnya kekhawatiran inflasi jangka pendek terkait lonjakan harga energi,” tulis staf The Fed.
Di sisi lain, imbal hasil obligasi tenor panjang relatif stabil, menandakan pasar belum sepenuhnya mengubah pandangan terhadap prospek jangka panjang ekonomi AS.
: : Israel “Ngekor” AS soal Keputusan Gencata Senjata dengan Iran
Tekanan juga terlihat di pasar saham global. Indeks ekuitas melemah dan volatilitas meningkat tajam, seiring turunnya kepercayaan investor terhadap stabilitas geopolitik.
Dalam perekonomian domestik, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) AS masih solid meski didukung basis yang terdampak penutupan pemerintah sebelumnya. Tingkat pengangguran relatif stabil, namun pertumbuhan lapangan kerja mulai melambat.
Inflasi konsumen tetap tinggi, sementara ekspektasi inflasi jangka pendek meningkat akibat lonjakan harga komoditas energi.
“Beberapa ukuran ekspektasi inflasi jangka pendek meningkat seiring lonjakan harga energi dan komoditas lainnya.”
Proyeksi terbaru The Fed menunjukkan pertumbuhan ekonomi hingga 2028 cenderung berada di sekitar potensi jangka panjang. Tingkat pengangguran diperkirakan stabil sebelum turun secara bertahap menuju tingkat alami.
Namun, risiko terhadap proyeksi tersebut meningkat. Tekanan terhadap pertumbuhan dan tenaga kerja cenderung ke bawah, sementara risiko inflasi justru mengarah ke atas.
“Risiko terhadap inflasi sedikit lebih condong ke atas dibandingkan proyeksi sebelumnya,” demikian risalah mencatat.
Konflik Timur Tengah menjadi faktor kunci. Kenaikan harga minyak berpotensi menekan daya beli rumah tangga, memperketat kondisi keuangan, serta menahan pertumbuhan global.
Di saat yang sama, lonjakan harga energi berisiko membuat inflasi bertahan lebih lama, sehingga membuka ruang bagi pengetatan kebijakan lanjutan.
Kondisi ini memaksa The Fed membuka kemungkinan kebijakan dua arah. Jika inflasi tetap tinggi, kenaikan suku bunga masih menjadi opsi. Sebaliknya, pelemahan pasar tenaga kerja dapat mendorong pemangkasan suku bunga.
Mayoritas anggota FOMC memilih mempertahankan suku bunga pada rapat tersebut. Hanya satu anggota yang mengusulkan penurunan sebesar 25 basis poin.
“Peserta menekankan pentingnya bersikap gesit dalam menyesuaikan kebijakan berdasarkan data dan perkembangan risiko,” tulis risalah tersebut.