Rupiah cetak rekor terlemah, tekanan global dan domestik masih membayangi

Ussindonesia.co.id  JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan mencatatkan level terlemah sepanjang sejarah pada akhir pekan lalu. 

Tekanan datang dari kombinasi sentimen global, terutama ketegangan geopolitik, dan faktor domestik seperti ekspektasi kebijakan suku bunga, membuat prospek rupiah dalam jangka pendek masih dibayangi risiko pelemahan.

Mengutip data Bloomberg dan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah pada Jumat (17/4/2026) ditutup melemah sekitar 0,27%–0,29% ke level Rp 17.189 per dolar AS. Ini sekaligus menandai posisi terendah yang pernah dicapai mata uang Garuda.

Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai, pelemahan rupiah masih didorong kuat oleh sentimen negatif dari dalam negeri, meski indeks dolar AS belum sepenuhnya menguat signifikan. 

Rupiah Cetak Rekor Terlemah, Cermati Efeknya terhadap Kinerja Mayora (MYOR)

“Pergerakan rupiah akan sangat tergantung pada perkembangan situasi di Timur Tengah,” ujarnya.

Menurut Lukman, peluang penguatan rupiah baru terbuka jika ada sinyal kuat menuju perdamaian di kawasan tersebut.

Namun di sisi lain, sentimen domestik justru menjadi beban tambahan, terutama menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang diperkirakan tetap menahan suku bunga acuan. 

Kebijakan tersebut dinilai kurang memberi dorongan bagi rupiah di tengah tekanan eksternal.

Rupiah Tembus Rekor Terlemah Sepanjang Masa, BI Perkuat Intervensi

Untuk perdagangan awal pekan, ia memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp 17.100–Rp 17.250 per dolar AS.

Sementara itu, analis mata uang Ibrahim Assuaibi menyoroti risiko lain dari sisi fiskal. 

Meski fundamental ekonomi Indonesia di awal 2026 terbilang solid, ditopang inflasi terkendali, konsumsi domestik yang kuat selama Ramadan dan Lebaran, serta surplus neraca perdagangan, tekanan eksternal mulai meningkat menjelang akhir kuartal I.

Lonjakan harga minyak akibat eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran menjadi faktor utama yang mengganggu stabilitas. Kenaikan harga energi ini melampaui asumsi makro dalam APBN dan berpotensi memperlebar defisit fiskal.

Rupiah Tembus Rekor Terlemah Sepanjang Masa Saat Dolar AS Melemah 7 Hari Beruntun

Namun, pemerintah disebut tetap berupaya menjaga kredibilitas fiskal. Dalam pertemuan dengan lembaga pemeringkat global Standard & Poor’s (S&P), pemerintah menegaskan komitmen mempertahankan defisit APBN di bawah 3% terhadap PDB.

Bahkan, proyeksi terbaru menunjukkan defisit bisa ditekan ke kisaran 2,8% dari sebelumnya sekitar 2,9%.

Ibrahim memperkirakan rupiah pada Senin (20/4/2026) akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah di rentang Rp 17.180–Rp 17.220 per dolar AS.