
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Nilai tukar rupiah berpeluang kembali melemah pada perdagangan awal pekan ini, Senin (30/3/2026).
Asal tahu saja, rupiah spot ditutup melemah 0,45% secara harian ke Rp 16.980 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (27/3/2026).
Sementara itu, berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah melemah 0,32% secara harian ke Rp 16.957 per dolar AS.
Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, melemahnya rupiah karena efek sentimen eskalasi di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump mengklaim telah melakukan pembicaraan untuk mengakhiri perang dengan Iran. Trump mengumbar janji akan menghentikan serangan terhadap pembangkit energi negara itu selama 10 hari.
IHSG Berpotensi Melanjutkan Koreksi pada Senin (30/3), Cermati Saham-Saham Berikut
Meskipun Trump mengumumkan penghentian serangan terhadap infrastruktur energi Iran, AS juga telah mengirim ribuan pasukan ke Timur Tengah, dengan Trump mempertimbangkan apakah akan menggunakan pasukan darat untuk merebut pusat minyak strategis Iran di Pulau Kharg.
“Seorang pejabat Iran mengatakan bahwa proposal AS yang terdiri dari 15 poin, yang disampaikan kepada Teheran oleh Pakistan, adalah sepihak dan tidak adil,” ucap Ibrahim, Jumat (27/3/2026).
Ibrahim memperkirakan rupiah pada Senin (30/3) bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada rentang Rp 16.980 – Rp 17.030 per dolar AS.
Sementara itu, Muhammad Amru Syifa, Research and Development ICDX mengatakan, tekanan terhadap rupiah masih didominasi oleh faktor eksternal, khususnya penguatan dolar AS dan meningkatnya sentimen risk-off di pasar global.
Potensi pelemahan hingga menembus level Rp 17.000 tetap terbuka apabila sentimen negatif berlanjut.
“Meski demikian, langkah intervensi dan stabilisasi dari Bank Indonesia diharapkan mampu meredam tekanan agar depresiasi rupiah tidak terlalu dalam,” ucap Amru.
IHSG Melemah Jelang Pekan Baru, Sentimen Timur Tengah dan The Fed Jadi Sorotan
Amru memperkirakan pergerakan rupiah pada Senin (30/3/2026) akan dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi eksternal, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi mendorong aliran dana ke aset safe haven seperti dolar AS dan memicu sentimen risk-off.
Sementara harga minyak yang tetap tinggi menjadi tekanan bagi Indonesia sebagai negara net importir energi. Selain itu, tingginya imbal hasil US Treasury serta kebijakan moneter yang masih hawkish dari Federal Reserve turut menopang penguatan dolar, dengan arah jangka pendek juga dipengaruhi oleh rilis data ekonomi AS seperti inflasi ekspektasi dan sentimen konsumen.
“Dari sisi domestik, perhatian pasar akan tertuju pada prospek inflasi Indonesia yang sebelumnya tercatat sebesar 4,76%, serta menantikan rilis data inflasi terbaru yang dijadwalkan pada bulan depan,” terang Amru.
Amru memproyeksi rupiah pada Senin (30/3/2026) tetap fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas pada rentang Rp 16.900 – Rp 17.050 per dolar AS.