
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Nilai tukar rupiah di pasar spot tak mampu keluar dari tekanan dan jatuh ke rekor penutupan terburuk sepanjang masa di akhir perdagangan hari ini.
Jumat (17/4/2026), rupiah spot ditutup di level Rp 17.189 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah melemah 0,29% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.139 per dolar AS.
Pada perdagangan hari ini, rupiah juga sempat jatuh ke level terburuk intraday di Rp 17.194 per dolar AS pada pukul 14.19 WIB.
Mitra Pinasthika (MPMX) Siap Buyback Saham Rp 50 Miliar, Ini Tujuan Aksi Korporasi
Pakar Ekonomi Ferry Latuhihin menilai, pelemahan rupiah masih berpotensi berlanjut hingga menembus level Rp 17.200 per dolar AS dalam waktu dekat.
“Kayaknya (pekan depan) bakal menembus Rp 17.200,” ujar Ferry kepada Kontan, Jumat (17/4).
Menurutnya, pergerakan rupiah dalam sepekan ke depan masih akan dipengaruhi oleh sejumlah sentimen, baik dari global maupun domestik.
Dari sisi global, harga minyak yang masih tinggi menjadi salah satu faktor utama yang menekan nilai tukar.
Sementara dari dalam negeri, ketahanan cadangan devisa serta kondisi fiskal Indonesia turut menjadi perhatian pelaku pasar.
Lebih lanjut, Ferry juga memberikan pandangan terkait langkah yang dapat diambil masyarakat, khususnya investor, dalam menghadapi kondisi rupiah yang melemah.
Ia menyarankan investor untuk mempertimbangkan pengalihan aset ke dolar AS, seiring prospek penguatan mata uang tersebut ke depan.
“Sebaiknya beli dolar saja. Saya prediksi bisa ke Rp 22.000 pada Juli nanti,” ungkap Ferry.
Industri Barang Mewah Masuk Fase Transisi, Pertumbuhan 2026 Diproyeksi Melambat
Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa investasi emas berpotensi menghadapi tekanan, terutama jika bank sentral AS kembali menaikkan suku bunga untuk merespons inflasi.
“Emas takutnya kena hantam kenaikan suku bunga The Fed karena inflasi,” tambahnya.