Rupiah jatuh ke rekor terendah Rp 17.286 hari ini, tekanan datang bertubi-tubi

Ussindonesia.co.id  Nilai tukar rupiah terperosok ke level terendah sepanjang sejarah pada Kamis (23/4/2026), di tengah tekanan harga minyak global yang tinggi serta kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dan tata kelola domestik.

Rupiah sempat menyentuh level Rp17.315 per dolar AS, sekaligus mencatat penurunan harian sekitar 0,8% potensi pelemahan terdalam sejak September tahun lalu. Hingga akhirnya rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 17.286 per dolar AS hari ini.

Rupiah Cetak Rekor Terlemah, Kiwoom: Tekanan Bukan Sekadar Faktor Global

Tekanan terhadap rupiah dipicu kombinasi faktor global dan domestik. Kenaikan harga energi akibat konflik Iran-AS mendorong arus keluar modal dari pasar negara berkembang, terutama negara importir energi seperti Indonesia.

Melansir Reuters, Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai, pelemahan rupiah dipengaruhi berbagai tekanan yang datang bersamaan, mulai dari risiko perang yang belum mereda, lonjakan harga minyak, hingga kekhawatiran spesifik terhadap kondisi fiskal Indonesia.

“Jika perundingan AS-Iran kembali berjalan dan harga minyak turun secara berkelanjutan, rupiah berpotensi pulih,” ujarnya.

Astra Otoparts Perkuat Strategi Hadapi Gejolak Global pada Kuartal II-2026

Bank sentral Bank Indonesia (BI) sebelumnya menegaskan siap mengambil langkah untuk menstabilkan rupiah yang dinilai undervalued, termasuk melalui penyesuaian kebijakan moneter guna menjaga inflasi tetap terkendali.

Sejak konflik pecah pada akhir Februari, rupiah telah melemah lebih dari 3,5%, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia, hanya di bawah rupee India.

Di kawasan, mata uang Asia lainnya juga tertekan. Baht Thailand melemah ke level terendah sejak awal April.

Sementara rupee India menembus level 94 per dolar AS untuk pertama kalinya bulan ini. Ringgit Malaysia juga turun ke posisi terendah dalam delapan sesi terakhir.

Berbeda dengan Indonesia, Bangko Sentral ng Pilipinas menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,50% guna meredam tekanan inflasi. Kebijakan ini sempat menahan pelemahan peso Filipina, meski kemudian kembali tertekan.

Jadwalkan Rights Issue Beruntun, Grup Bakrie Incar Dana Jumbo Hingga Rp 10 Triliun

Di pasar saham, indeks di kawasan Asia juga bergerak fluktuatif. Indeks saham negara berkembang Asia sempat mencetak rekor sebelum berbalik melemah, dipicu sentimen negatif dari mandeknya perundingan damai AS-Iran yang mendorong harga minyak bertahan di atas US$100 per barel.

Bursa saham Indonesia turun sekitar 1,5%, sementara pasar Singapura dan Thailand juga mengalami pelemahan.

Volatilitas tinggi terlihat di Korea Selatan dan Taiwan, di mana indeks sempat mencetak rekor sebelum akhirnya terkoreksi.

Pelaku pasar kini mencermati perkembangan geopolitik di Timur Tengah, yang dinilai menjadi faktor utama penggerak pasar global dalam jangka pendek.