Rupiah makin lesu, begini skenario pergerakannya hingga akhir tahun 2026

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Pergerakan rupiah diperkirakan masih akan terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga akhir tahun 2026.

Rupiah spot ditutup pada level Rp 17.424 per dolar AS pada akhir perdagangan Selasa (5/5/2026). Hari ini, rupiah melemah 0,17% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.394 per dolar AS. Lagi-lagi rupiah mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo melihat, pelemahan rupiah merupakan manifestasi dari krisis kepercayaan global yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah. 

Ketika rudal menyasar infrastruktur energi di Uni Emirat Arab (UAE) dan stabilitas di Selat Hormuz terganggu, terjadi rotasi modal besar-besaran menuju aset safe-haven seperti dolar AS dan emas. Kondisi ini pun diperparah oleh lonjakan imbal hasil US Treasury yang menyentuh 4,456%.

Pasar Obligasi Fluktuatif, OJK Sebut Yield SBN Turun dan Asing Mulai Masuk

“Sehingga, ini menciptakan tekanan outflow yang masif dari pasar obligasi domestik karena menyempitnya selisih suku bunga antara surat berharga negara (SBN) dan obligasi AS,” katanya kepada Kontan, Selasa (5/5).

Secara teknikal, sentimen negatif ini diperkirakan akan bertahan setidaknya hingga akhir kuartal II 2026, atau sampai adanya kepastian mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed pasca rilis data tenaga kerja April. 

Jika eskalasi militer di Timur Tengah meluas menjadi konflik regional terbuka yang menghentikan arus logistik minyak dunia, skenario terburuk dapat memaksa rupiah menguji level psikologis di Rp 17.800 – Rp 18.000 per dolar AS.

“Pada level tersebut, risiko fundamental akan bergeser menjadi risiko sistemik yang dapat memicu kepanikan di pasar modal domestik,” paparnya.

Di sisi lain, meskipun rilis data produk domestik bruto (PDB) kuartal I cukup positif dan dapat menjadi sentimen pendukung, kekuatannya untuk membalikkan arah rupiah cenderung terbatas.

Rupiah Melemah ke Rp 17.424 per Dolar AS Meski Ekonomi RI Tumbuh 5,6%, Ini Pemicunya

Sebagai gambaran, Badan Pusat Statistik (BPS) sebut PDB tumbuh 5,61% year on year (YoY) pada kuartal I 2026.

Sutopo melihat, pertumbuhan ekonomi yang solid memang membuktikan daya tahan fundamental. Namun, dalam rezim “dolar AS yang perkasa,” investor akan lebih memprioritaskan keamanan likuiditas daripada prospek pertumbuhan di pasar berkembang. 

“Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi positif saat ini lebih berfungsi sebagai ‘bantalan’ untuk mencegah depresiasi yang lebih liar, alih-alih menjadi katalisator penguatan kembali ke level fundamental sebelumnya,” tuturnya.

Menghadapi situasi ini, Bank Indonesia (BI) dilihat Sutopo akan terjepit dalam dilema kebijakan yang sempit antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi. 

Rupiah Semakin Tertekan, Nilai Wajar Seharusnya di Bawah Rp 17.000 per Dolar AS

BI kemungkinan besar harus melakukan intervensi triple intervention di pasar spot, DNDF, dan pasar SBN untuk meredam volatilitas. Namun, cadangan devisa yang terus menipis bisa membatasi ruang gerak tersebut.

Pemerintah pun dituntut melakukan langkah fiskal ekstrem dengan memastikan defisit tetap terjaga di bawah 3%.

“Ini sembari memperketat aturan repatriasi Devisa Hasil Ekspor (DHE) guna menyuplai likuiditas valas yang mulai mengering di pasar domestik,” katanya.