RUPST BTPN Syariah tetapkan Mulya Effendi Siregar sebagai komisaris utama, hingga pembagian dividen Rp 660 miliar

Ussindonesia.co.id – Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BTPN Syariah tahun 2026 menyetujui seluruh mata acara. Salah satunya yakni penetapan Mulya Effendi Siregar sebagai komisaris utama, menggantikan Kemal Azis Stamboel. RUPST juga menetapkan Sendiaty Sondy sebagai komisaris.

Kemal Azis Stamboel telah menyelesaikan masa tugasnya sebagai komisaris utama perusahaan. Arief Ismail selaku Direktur Kepatuhan merangkap Corporate Secretary Perusahaan, menuturkan bahwa BTPN Syariah menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang setinggi-tingginya atas kontribusi dan dedikasi Kemal Azis Stamboel selama menjabat sebagai Komisaris Utama Perseroan.

“Melalui kepemimpinan, arahan strategis, serta pengawasan yang kuat, Bapak Kemal telah berperan penting dalam memperkuat komitmen BTPN Syariah mendorong akses keuangan yang inklusif bagi masyarakat prasejahtera produktif di Indonesia,” kata Arief dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (17/4).

Seiring dengan hal tersebut, BTPN Syariah juga menyambut kehadiran Sendiaty Sondy sebagai Komisaris Perseroan. Arief menambahkan, dengan bergabungnya Sendiaty Sondy sebagai Komisaris, BTPN Syariah semakin memperkuat komitmen perseroan dalam penerapan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance).

“Berbekal pengalaman panjang dan mendalam di bidang perbankan, khususnya dalam fungsi pengawasan dan manajemen risiko, kehadiran Ibu Sendiaty diharapkan dapat mendukung BTPN Syariah untuk terus memperluas akses layanan keuangan yang inklusif bagi masyarakat inklusi di berbagai pelosok Indonesia yang belum tersentuh layanan perbankan,” ungkapnya.

Saat ini, Sendiaty Sondy menjabat sebagai Head of Risk Management di PT Bank SMBC Indonesia, yang merupakan bank induk perseroan. Dengan pengalaman lebih dari 30 tahun berkarier di industri perbankan nasional dan internasional, termasuk dalam lingkup Konglomerasi Keuangan SMBC Indonesia, Sendiaty Sondy memiliki rekam jejak yang kuat dalam penguatan sistem pengawasan dan manajemen risiko.

Pengalaman internasionalnya mencakup penugasan di Deutsche Bank Cabang Jakarta, Deutsche Bank AG Cabang London, serta Deutsche Bank AG Asia Pacific Head Office Cabang Singapura, dengan kontribusi signifikan dalam proses due diligence, pengembangan sistem origination credit, serta reformasi kebijakan kredit.

Selain itu, selama berkarier di Bank Danamon pada periode Agustus 2004 hingga Desember 2011, Sendiaty Sondy memimpin implementasi Central Liability System, yang berperan penting dalam penguatan infrastruktur pengelolaan risiko perusahaan.

Dengan demikian susunan dewan Komisaris BTPN Syariah terbaru adalah sebagai berikut.

Dewan Komisaris

Komisaris Utama/Independen: Mulya Effendi Siregar

Komisaris Independen: Dewie Pelitawati

Komisaris: Ongki Wanadjati Dana 

Komisaris: Sendiaty Sondy  

Sementara itu, tidak terdapat perubahan susunan Dewan Direksi dan Dewan Pengawas Syariah perseroan, dimana komposisinya sebagai berikut.

Dewan Direksi

Direktur Utama: Hadi Wibowo

Direktur Kepatuhan: Arief Ismail

Direktur: Fachmy Achmad

Direktur: Dwiyono Bayu Winantio

Direktur: Dewi Nuzulianti  

Dewan Pengawas Syariah

Ketua Dewan Pengawas Syariah: H. Ikhwan Abidin, MA

Anggota DPS: H. Muhamad Faiz, MA H. Cecep Maskanul Hakim, M.Ec Manajemen

 

Bagikan Dividen

Selain keputusan di atas, keputusan penting lain yang dihasilkan dalam RUPST telah menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp 85,70 per lembar saham atau setara dengan Rp 660 miliar. RUPST juga menyetujui laba ditahan sebesar Rp 521 miliar. Hal ini sebagai komitmen dan apresiasi terhadap stakeholders, khususnya investor, yang sudah memercayakan Bank BTPN Syariah dalam memberdayakan masyarakat inklusi.

Adapun, perseroan juga telah mempublikasikan hasil kinerja tahun 2025 pada bulan Februari lalu, di mana kinerja perseroan menunjukan kinerja yang bertumbuh. Hingga tahun 2025, Bank BTPN Syariah mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,2 triliun, tumbuh 13 persen secara tahunan (YoY).

Penyaluran pembiayaan mencapai Rp 10,35 triliun. Rasio keuangan Bank tetap kuat dengan Return on Asset (RoA) sebesar 7,2 persen dan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 57,7 persen.