Saham emiten perkapalan masih tertekan, begini penjelasan analis

Ussindonesia.co.id  JAKARTA. Tensi di kawasan Timur Tengah masih memanas. Terlebih, setelah pemerintah Iran melayangkan kecaman terhadap kapal tanker yang akan melewati Selat Hormuz.

Penutupan Selat Hormuz ini tak hanya menyulut harga komoditas dunia seperti minyak tetapi turut menjalar ke harga energi alternatif lainnya seperti gas alam dan batubara.

Industri pendukung dari sektor energi tersebut juga ikut tersebut. Di mana, sektor pelayaran kapal tanker minyak mentah menjadi salah satu yang berpotensi mendapat berkah.

Harga Komoditas Melesat, Saham Emiten Emas Semakin Kuat

Tim Riset Stockbit Sekuritas menjelaskan Gangguan di Selat Hormuz juga berdampak pada pengiriman gas alam cair alias Liquefied Natural Gas (LNG), khususnya ke Asia.

“Kenaikan biaya asuransi dan risiko logistik dapat menopang tarif tanker LNG dan harga gas regional,” tulis Tim Riset Stockbit dalam risetnya yang dirilis pada Senin (2/3/2026). 

Dalam jangka panjang, Tim Riset Stockbit Sekuritas menilai kenaikan harga minyak pada akhirnya akan turut mendorong harga komoditas energi substitusi, seperti batubara.

Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Fath Aliansyah bilang saat ini pelaku pasar harus melihat perkembangan ke depannya seperti apa.

Apalagi, setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan memberikan perlindungan pada kapal yang akan melewati Selat Hormuz.  

Pertamina Siapkan Jalur Alternatif Pasokan Minyak dari Timur Tengah

“Pasar masih wait and see dampaknya seperti apa terhadap perusahaan kapal tanker. Namun selama tensi timur tengah belum mereda, sentimen masih akan sama,” jelasnya, Rabu (4/3).

Meski mendapat angin segar dari penutupan Selat Hormuz ini, saham-saham kapal tanker Tanah Air masih terkoreksi. Bukan tanpa alasan, sebelum tensi geopolitik di Timur Tengah memanas saham pelayaran sudah melesat. 

Pada akhir perdagangan Rabu (4/3), saham PT Soechi Lines Tbk (SOCI) melemah 8,51% ke level Rp 654 dan saham PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) terkoreksi 4,82% ke posisi Rp 474. 

Harga Nikel Tembus US$ 18.000 per Ton, Mayoritas Harga Saham Emiten Nikel Melesat

Saham PT GTS Internasional Tbk (GTSI) anjlok 12,74% dalam sehari ke posisi Rp 274. Tekanan jual juga terjadi pada saham PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI) ambles 11,48% ke posisi Rp 216. 

“Terkadang pasar butuh waktu dan bisa jadi saham-sahamnya sudah mengalami kenaikan sehingga mengalami konsolidasi. Cepat atau lambat jika tidak ada perubahan tensi, kapal tanker migas akan mendapatkan sentimen positif,” ucap Fath.