
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Pekan depan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) akan mengadakan rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB). Agenda yang akan dibahas dalam RUPSLB pada Rabu (8/4/2026) adalah perubahan penggunaan dana hasil penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu I alias rights issue.
Shannedy Ong Direktur Solusi Sinergi Digital menjelaskan perubahan penggunaan dana PMHMETD I terutama didorong oleh keberhasilan entitas anak WIFI, PT Telemedia Komunikasi Pratama (TKP) yang memenangkan lelang spektrum FWA.
Dengan kepastian spektrum tersebut, perusahaan ini memiliki peluang untuk mempercepat penetrasi layanan internet melalui FWA, yang secara implementasi umumnya lebih cepat dan fleksibel dibandingkan dengan FTTH karena tidak memerlukan pembangunan last-mile fiber ke rumah secara penuh.
IHSG Terkoreksi, Intip Saham yang Banyak Diborong Asing, Senin (30/3)
Emiten yang kerap disebut Surge ini memandang percepatan rollout melalui FWA akan memungkinkan kontribusi pendapatan lebih dini, sehingga dapat memperkuat arus kas operasional dan mendukung strategi pertumbuhan secara keseluruhan.
Shannedy memaparkan dana hasil rights issue Rp 5,06 triliun akan digunakan untuk peningkatan jaringan utama (RAN), perangkat pelanggan (CPE) dan infrastruktur pendukung lainnya. Dia merinci, perusahaan ini akan melakukan rollout pada 2.786 site. “Untuk setiap site, perusahaan membutuhkan perangkat RAN utama berupa RRU (Remote Radio Unit) untuk diinstal pada BTS,” terang dia dalam keterbukaan informasi di BEI.
Dengan demikian, kebutuhan RRU adalah sekitar 2.786 unit (1 unit per site, sesuai desain jaringan). “Estimasi harga per unit RRU adalah sekitar Rp 745 juta (asumsi kurs USD/IDR 16.841),” jelas Shannedy.
Berdasarkan perencanaan kapasitas, tiap site ditargetkan memiliki kapasitas layanan hingga sekitar 1.000 pelanggan pada tingkat utilisasi penuh. “Oleh karena itu, total kebutuhan CPE diperkirakan hingga 2.786.000 unit untuk melayani kapasitas maksimum (100% utilisasi) dari keseluruhan site. Estimasi harga per unit CPE adalah sekitar Rp 1 juta (asumsi kurs USD/IDR 16.841),” jelas Shannedy.
Namun Shannedy menegaskan jika angka tersebut adalah kapasitas teknis maksimum, sementara realisasi jumlah pelanggan akan mengikuti dinamika take up rate, pemasaran, kesiapan area, serta kebutuhan pelanggan di masing-masing wilayah.
Perusahaan ini menargetkan pencapaian pelanggan FWA hingga akhir tahun ini bisa mencapai 3 juta pelanggan, dengan asumsi take-up rate sekitar 60% pada area rollout yang telah aktif secara komersial. Sementara hingga tahun 2028, WIFI menargetkan mencapai sekitar 6,8 juta pelanggan seiring perluasan cakupan layanan, peningkatan penetrasi di area eksisting, dan peningkatan kapasitas operasional.
Asing Net Sell Jumbo Rp 686 Miliar, Cermati Saham yang Banyak Dijual di Awal Pekan
WIFI berharap dengan izin dari pemegang saham atas perubahan penggunaan dana rights issue maka pendapatan perusahaan akan mencapai Rp 2,9 triliun di tahun 2026, atau sekitar 40% dari total pendapatan berasal dari proyek FWA.
Seiring dengan meningkatnya jumlah site aktif, perluasan cakupan layanan, serta peningkatan jumlah pelanggan, kontribusi pendapatan dari FWA diharapkan akan terus meningkat. WIFI memperkirakan bahwa pada tahun 2028, kontribusi pendapatan dari proyek FWA dapat mencapai lebih dari 50% dari total pendapatan, dengan estimasi pendapatan sekitar Rp 7 triliun.
Perusahaan ini menjelaskan pemilihan vendor untuk proyek FWA dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa kriteria utama, antara lain kemampuan teknis dan kualitas solusi teknologi, khususnya dalam menyediakan perangkat dan solusi jaringan yang sesuai dengan kebutuhan implementasi jaringan FWA.
WIFI juga akan memilih perusahaan dengan pengalaman vendor dalam implementasi jaringan telekomunikasi skala besar, khususnya pada infrastruktur RAN, transport network, dan core network. Serta memiliki keandalan produk dan dukungan teknis, termasuk kemampuan vendor dalam menyediakan dukungan operasional, pemeliharaan jaringan, serta ketersediaan suku cadang.
“Saat ini perusahaan telah menjajaki kerja sama dengan beberapa vendor global dan regional yang memiliki kompetensi di bidang penyediaan perangkat jaringan telekomunikasi, antara lain Huawei, ZTE, FiberHome, Nokia, Baicells, dan lain-lain,” tutur Shannedy.
Selain itu, vendor perusahaan juga termasuk penyedia chipset seperti Qualcomm dan ASR Microelectronics, penyedia infrastruktur menara seperti Protelindo, Tower Bersama Group, dan Centratama, serta penyedia perangkat jaringan dan infrastruktur inti, untuk memastikan kesiapan implementasi proyek FWA secara end-to-end.
Dalam keterbukaan informasi juga dijelaskan jika pendanaan proyek fiber to the home di Jawa yang semula dari dana rights issue akan menggunakan dana yang lain. “Pendanaan proyek FTTH ke depan akan bersumber dari kombinasi antara arus kas operasional dan pendanaan melalui obligasi dan sukuk yang saat ini sedang diproses oleh entitas anak perusahaan, yaitu PT Integrasi Jaringan Ekosistem (IJE),” jelas Shannedy.
WIFI juga mengklaim jika proyek FTTH di Pulau Jawa masih berjalan dan terus dikembangkan sesuai kebutuhan pasar dan kesiapan pelaksanaan. Hingga saat ini, Surge mengaku FTTH telah mencapai 2,5 juta homepass dan 1,5 juta homeconnect, dengan nilai investasi yang telah direalisasikan sekitar Rp 2 triliun. “Perusahaan akan terus mengoptimalkan rollout FTTH berdasarkan prioritas area dan kesiapan mitra/operasional agar tingkat konversi homepass menjadi homeconnect tetap terjaga,” kata Shannedy.
Wall Street Dibuka Menguat Senin (30/3), Fokus pada Konflik Timur Tengah
Ke depan, WIFI mengaku rollout layanan FWA akan difokuskan pada Region 1, yaitu Jawa, Maluku, dan Papua, sesuai wilayah spektrum yang dimenangkan oleh PT Telemedia Komunikasi Pratama (TKP) dalam lelang frekuensi FWA. “Dengan demikian, penggunaan dana HMETD untuk FWA bersifat selaras dengan cakupan izin spektrum, sehingga perencanaan rollout dilakukan pada wilayah yang telah memiliki dasar legal-operasional yang jelas,” papar dia.