Temukan cadangan minyak baru, prospek kinerja Energi Mega (ENRG) 2026 kian menarik

Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Prospek kinerja PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) tampak positif setelah kembali mencatatkan temuan cadangan minyak baru yang berpotensi menambah portofolio aset hulu migas perseroan.

Terbaru, ENRG mengumumkan bahwa anak usahanya, PT EMP Tunas Energi, sukses mendapatkan temuan minyak baru dari sumur eksplorasi Cenako-1 Twin yang merupakan bagian dari blok South CPP di Riau, Sumatera. 

Pengeboran sumur eksplorasi tersebut dilakukan hingga mencapai kedalaman 2.475 kaki atau 754 meter. Berdasarkan data well testing dan subsurface awal tanggal 17 Maret 2026, struktur Cenako diperkirakan memiliki kandungan minyak di tempat (original oil in place) sekitar 15,6 juta barel.

Usai Melemah 1,89%, IHSG Berpotensi Bergerak Sideways Pada Jumat (27/3)

Manajemen mengatakan akan melanjutkan eksplorasi dan pengeboran untuk mengonversi temuan tersebut menjadi cadangan yang siap dikembangkan secara komersial. Selain itu, manajemen juga bakal melakukan akuisisi data seismik dan pengeboran di tiga sumur tambahan dengan potensi total produksi sebesar 500 barel minyak per hari.

Terkait hal ini, Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi berpandangan penemuan cadangan minyak baru ini belum akan langsung berkontribusi terhadap kinerja keuangan perseroan pada 2026.

“Dampak finansial minim di 2026. Penemuan ini masih dalam fase eksplorasi awal. Proses konversi menjadi cadangan terbukti dan produksi komersial membutuhkan waktu,” ujar Wafi kepada Kontan, Kamis (26/3/2026).

Meski demikian, ia menilai temuan tersebut tetap menjadi sentimen positif bagi ENRG dalam jangka panjang, seiring potensi peningkatan cadangan dan produksi di masa mendatang.

Tak hanya itu saja, Senior Analyst Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas dalam riset 11 Maret 2026 mencatat ENRG sebelumnya juga mengumumkan penemuan cadangan minyak baru di wilayah kerja Malacca Strait pada 26 Januari 2026.

Manajemen memperkirakan temuan ini memiliki potensi sekitar 31 juta barel minyak di tempat (original oil in place), dengan tambahan potensi produksi sebesar 1.000–1.500 bopd dari pengembangan struktur MSTB-NW melalui enam sumur pengembangan.

Pun, hasil interpretasi seismik menunjukkan potensi eksplorasi tambahan lebih dari 76 juta barel di area sekitar, yang memberikan peluang peningkatan cadangan di masa depan.

Menanti Data Klaim Pengangguran, Simak Proyeksi Arah Indeks Dolar AS

Ke depan, prospek harga minyak yang lebih tinggi juga diperkirakan akan mendukung kenaikan harga jual rata-rata alias average selling price (ASP).

ENRG memproyeksikan ASP minyak pada 2026 mencapai US$ 86,6 per barel, meningkat dari US$ 69,2 per barel pada 2025, sejalan dengan ekspektasi penguatan harga minyak global. Sementara itu, ASP gas diperkirakan naik tipis menjadi US$ 6,48 per mmbtu dari US$ 6,35 per mmbtu, mencerminkan harga gas yang relatif stabil.

Dari sisi operasional, ENRG menargetkan pertumbuhan produksi minyak dan gas sekitar 10% secara tahunan (year on year/yoy). Produksi gas diproyeksikan mencapai 238,7 juta standar kaki kubik per hari (mmscfd), sementara produksi minyak diperkirakan sebesar 9.092 bopd.

“Dengan dukungan kenaikan harga dan volume produksi, pendapatan ENRG pada 2026 diperkirakan mencapai US$ 592 juta atau tumbuh 19% yoy, terutama ditopang oleh peningkatan kontribusi penjualan minyak serta pertumbuhan stabil dari segmen gas,” terang Sukarno.

Di luar temuan cadangan baru, Wafi melihat kinerja ENRG pada 2026 masih akan ditopang oleh beberapa katalis utama. Salah satunya adalah tingginya harga minyak mentah global, khususnya Brent, yang terdorong oleh eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Selain itu, optimalisasi produksi gas dari blok eksisting seperti Bentu juga berpotensi menopang kinerja operasional perseroan.

Namun, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko. Wafi mengingatkan adanya potensi pembengkakan biaya produksi (lifting cost) serta tingginya belanja modal yang diperlukan untuk membiayai tahapan eksplorasi lanjutan.

Dari sisi eksternal, kinerja ENRG juga dipengaruhi faktor makro dan industri. Kebijakan pembatasan kuota produksi oleh OPEC+ berpotensi memengaruhi dinamika harga minyak global. Di sisi lain, risiko perlambatan ekonomi global dapat menekan permintaan energi dan berdampak pada kinerja perseroan.

Lebih lanjut meilihat laporan keuangan, ENRG mencatatkan pertumbuhan kinerja yang baik dari sisi top line maupun bottom line. Penjualan bersih ENRG tercatat mengalami pertumbuhan 7% year on year (yoy) menjadi US$ 498,13 juta pada 2025.

Ditutup Anjlok 1,89%, IHSG Berpotensi Lanjut Melemah Pada Jumat (27/3)

Bersamaan dengan itu, EBITDA ENRG meningkat 11% yoy menjadi US$ 309,71 juta. Laba bersih ENRG ikut melesat 21% yoy menjadi US$ 91,53 juta pada tahun lalu. 

Melihat sentimen yang cenderung positif, Analis Samuel Sekuritas Indonesia Juan Harahap mengestimasi kinerja keuangan ENRG masih akan mencatatkan pertumbuhan di tahun 2026.

Pendapatan perseroan diperkirakan mencapai US$ 522 juta pada 2026, atau meningkat 4,79% yoy dibandingkan realisasi tahun 2025. Sejalan dengan itu, laba bersih ENRG juga diprediksi naik menjadi US$ 95 juta pada 2026, naik 3,79% yoy dibandingkan realisasi tahun lalu.

Mempertimbangkan berbagai faktor di atas, Juan memberikan rekomendasi kepada investor untuk beli saham ENRG dengan target harga Rp 2.300 per saham.

Kemudian Wafi dan Sukarno juga sama-sama memberikan rekomendasi beli saham ENRG dengan target harga masing-masing Rp 1.560 dan Rp 2.100 per saham.