
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Bank Sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan dalam kisaran 3,5% – 3,75% pada pertemuan Rabu (18/3/2026). Keputusan itu diproyeksi membuat dolar AS dalam tren penguatan.
Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi melihat saat bank sentral menahan suku bunga berdampak pada menguatnya indeks dolar AS (DXY). Hal itu membuat sejumlah valuta asing (valas) utama terbilang melemah terhadap dolar AS.
“Bank Sentral global mempertahankan suku bunga karena terjadinya konflik di Timur Tengah yang mengakibatkan naiknya harga minyak dan berdampak terhadap inflasi. Sehingga bank sentral mempertahankan suku bunga,” ujar Ibrahim kepada Kontan, Kamis (26/3/2026).
Muhammad Amru Syifa, Research and Development ICDX mengatakan, pasangan GBP/USD cenderung bergerak stabil. Stabilnya pergerakan ini didukung oleh kekuatan dolar AS yang masih dominan, sementara pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati dengan terus memantau perkembangan konflik di Timur Tengah yang masih dipenuhi ketidakpastian.
Temukan Cadangan Minyak Baru, Prospek Kinerja Energi Mega (ENRG) 2026 Kian Menarik
Dari sisi geopolitik, Gedung Putih mengonfirmasi bahwa proses diplomasi masih berlangsung. Pemerintahan Donald Trump dilaporkan telah mengajukan proposal perdamaian 15 poin kepada Iran melalui Pakistan sebagai mediator.
Meski demikian, pejabat tinggi Iran masih mengevaluasi proposal tersebut tanpa menunjukkan minat untuk membuka dialog langsung dengan Washington.
“Bahkan, Teheran memberi sinyal akan menolak tawaran gencatan senjata dan mengajukan alternatif berupa proposal lima poin yang mencakup kedaulatan atas Selat Hormuz,” ujar Amru.
Lalu, pairing valas EUR/USD dipengaruhi sentimen harga komoditas energi. Pejabat European Central Bank (ECB) memperingatkan bahwa lonjakan harga energi berpotensi memicu tekanan inflasi yang lebih luas dibandingkan krisis energi 2022.
Meskipun ECB tidak dapat secara langsung mengendalikan harga energi, respons kebijakan tetap disiapkan apabila dampak lanjutan terhadap inflasi semakin nyata.
Selanjutnya, pasangan valas AUD/USD. Amru menjelaskan, pasangan mata uang ini masih sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, khususnya terkait konflik AS-Iran, di mana setiap perkembangan terbaru memicu volatilitas. Namun demikian, dominasi kekuatan dolar AS tetap menjadi faktor utama yang menahan laju kenaikan AUD/USD.
Dari sisi domestik Australia, data inflasi Februari menunjukkan perlambatan tipis, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) turun dari 3,8% menjadi 3,7% secara tahunan, sementara inflasi inti bertahan di 3,3%. Meskipun masih berada di atas target Reserve Bank of Australia (RBA), data ini memberikan sedikit kelegaan bagi pasar.
Harga Minyak & Emas Dunia Berpeluang Kembali Menguat Bersamaan Dalam Waktu Dekat
Namun, perlu dicatat bahwa data tersebut dikumpulkan sebelum lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah, yang berpotensi meningkatkan tekanan inflasi ke depan. Pejabat RBA juga menyoroti risiko dari sisi pasokan yang dapat memperketat kondisi keuangan.
Di sisi lain, dari Amerika Serikat, sinyal dovish dari pejabat Federal Reserve turut memberikan harapan pelonggaran kebijakan, meskipun belum cukup kuat untuk menekan USD secara signifikan.
Lalu, pasangan valas USD/JPY disebut bergerak dalam fase konsolidasi di kisaran 159,49 pada hari Kamis.
Amru bilang, yen Jepang terus menunjukkan kinerja yang relatif lemah, dipengaruhi oleh kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi akibat konflik global akan memperburuk neraca perdagangan serta prospek ekonomi Jepang.
Kenaikan harga minyak yang berkelanjutan juga berpotensi mendorong inflasi sekaligus menekan pertumbuhan, menciptakan risiko stagflasi.
“Kondisi ini menyulitkan Bank of Japan dalam melanjutkan normalisasi kebijakan moneternya, sehingga semakin memperkuat daya tarik dolar AS dan mendukung kenaikan USD/JPY,” terang Amru.
Kemudian, pairing valas USD/CHF disebut bergerak dalam kondisi pasar yang relatif tenang. Pergerakan ini sejalan dengan dolar AS yang cenderung sideways, di tengah sikap wait and see para pelaku pasar terhadap respons Iran atas proposal penyelesaian 15 poin yang diajukan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Usai Melemah 1,89%, IHSG Berpotensi Bergerak Sideways Pada Jumat (27/3)
Di sisi lain, bank sentral Swiss National Bank (SNB) menegaskan kesiapannya untuk melakukan intervensi apabila terjadi penguatan signifikan pada mata uang Franc Swiss guna menjaga stabilitas nilai tukar.
Amru melihat, pasangan EUR/USD dan USD/JPY menjadi yang paling menarik dicermati karena likuiditas tinggi serta sensitif terhadap perubahan kebijakan moneter global.
Sementara itu, Ibrahim memproyeksikan pasangan EUR/USD bergerak dikisaran 1,14251 -1,17491 pada kuartal II – 2026.
Berikutnya, pairing GBP/USD di rentang 1,32364 – 1,34952, valas USD/JPY di kisaran 157,138 – 161,100, pairing USD/CHF di rentang 0,77988 – 0,80101, dan pasangan USD/AUD di rentang 0,67961 – 0,70615 pada kuartal II – 2026.