
Ussindonesia.co.id , JAKARTA — Pasar berharap kombinasi kebijakan moneter dan fiskal bisa meredam tren pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang proyeksinya akan berlanjut sampai dengan hari ini, Kamis (15/1/2026).
Sekadar informasi, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berisiko ditutup melemah di kisaran Rp16.860-Rp16.890 pada hari ini, kendati dalam perdagangan Rabu (14/1/2026) kemarin sempat menguat.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat 0,07% atau 12 poin ke level Rp16.865 per dolar AS pada Rabu (14/1/2026). Adapun pada saat bersamaan, indeks dolar AS melemah tipis 0,01% ke level 99,14.
: Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini, Kamis 15 Januari 2026
Tren pelemahan mata uang garuda itu mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap kondisi fundamental ekonomi, termasuk kondisi ruang fiskal yang semakin sempit akibat defisit APBN nyaris menembus angka 3% dari produk domestik bruto (PDB).
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G. Hutapea pihaknya konsisten menjaga stabilitas nilai tukar sehingga dapat menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
: : Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Rabu 14 Januari 2026
Dia mengemukakan bahwa faktor pendorong pergerakan mata uang global pada awal 2026 ini, termasuk Indonesia, banyak dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia.
“Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun,” terang Erwin melalui keterangan tertulis, Rabu (14/1/2026).
: : Rupiah Melemah ke Rp16.860, Purbaya Yakin Ekonomi RI akan Baik-baik Saja
Kendati demikian, lanjut Erwin, pelemahan Rupiah tersebut masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar regional yang juga terdampak sentimen global. Misalnya, won Korea Selatan yang melemah sebesar 2,46% dan peso Filipina sebesar 1,04%.
BI pun mengeklaim stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga berkat konsistensi kebijakan stabilisasi bank sentral yang terus dilakukan secara berkesinambungan.
Berbagai upaya stabilisasi dilakukan di antaranya melalui melalui intervensi non-delivery forward (NDF) di pasar off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, domestic non-delivery forward (DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder.
Di sisi lain, otoritas moneter turut mencatat berlanjutnya aliran masuk modal asing, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham yang secara neto mencapai Rp11,11 triliun pada Januari 2026.
Erwin menerangkan bahwa inflow tersebut juga mendukung terkendalinya stabilitas Rupiah, sejalan dengan persepsi investor global terhadap Indonesia yang tetap positif, berdasarkan premi risiko CDS Indonesia tenor 5 tahun yang berada pada level rendah, sekitar 72 bps.
Tidak hanya itu, ketahanan eksternal turut tercermin pada posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 yang tercatat sebesar US$156,5 miliar, setara dengan 6,4 bulan impor. Pasokan cadangan devisa itu dinilai memadai sebagai buffer dalam menghadapi tekanan pasar keuangan global.
“Bank Indonesia akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar Rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat,” terang Erwin.
Di sisi lain, BI menyatakan bakal terus mengoptimalkan instrumen operasi moneter pro-market guna memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan menjaga kecukupan likuiditas, sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan tetap mencapai sasaran inflasi serta menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.
Purbaya Soroti SRBI
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan nilai tukar rupiah akan menguat dalam waktu dua pekan setelah mengalami depresiasi hingga ke level Rp16.860 per dolar Amerika Serikat (AS).
Purbaya menegaskan bahwa upaya stabilisasi rupiah adalah urusan dari Bank Indonesia (BI) selaku bank sentral. Sebagai Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), dia mengaku masih menunggu masukan dari BI.
Menurutnya, fondasi ekonomi dalam negeri juga akan terus membaik sehingga aliran modal asing akan kembali masuk ke pasar keuangan RI. Dia mencontohkan hal itu terjadi di pasar modal.
“Enggak ada alasan orang takut untuk convert ke rupiah, asing juga sudah masuk, anda lihat pasar modal kita. Kalau dikendalikan dengan benar tidak terlalu sulit untuk mengembalikan rupiah. Jadi teman-teman yang di pasar, ibu-ibu dan lain-lain, enggak usah panik, rupiah akan segera menguat dalam waktu dua minggu ke depan,” tuturnya di IDN HQ, Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Adapun BI turut mencatat berlanjutnya aliran masuk modal asing, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham yang secara neto mencapai Rp11,11 triliun pada Januari 2026.
Aliran modal asing masuk itu juga dinilai mendukung terkendalinya stabilitas Rupiah, sejalan dengan persepsi investor global terhadap Indonesia yang tetap positif, berdasarkan premi risiko CDS Indonesia tenor 5 tahun yang berada pada level rendah, sekitar 72 bps.
Akan tetapi, Purbaya turut mewanti-wanti agar penerbitan SRBI tidak menyedot likuiditas domestik terlalu banyak. Untuk diketahui, mantan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu beberapa kali mengkritik kebijakan penerbitan SRBI yang dinilainya banyak menyedot likuiditas dalam negeri.
“Kalau SRBI betul-betul menyerap dana asing ya enggak apa-apa, tetapi kan banyak juga domestik masuk situ. Mesti dipertimbangkan itu mungkin,” terangnya.
Bakal Terus Tertekan
Managing Director Chief India Economist and Macro Strategist, Asean Economist HSBC Pranjul Bhandari memprediksi nilai tukar rupiah per dolar Amerika Serikat (AS) bisa semakin mengalami tekanan akibat kinerja neraca pembayaran.
Dia memprediksi nilai tukar rupiah bisa tembus Rp17.000 per dolar AS utamanya akibat defisit transaksi modal dan finansial.
“Kita mungkin akan terus melihat tekanan depresiasi pada rupiah karena neraca pembayaran. Kami pikir, pada akhir 2026, kita mungkin akan berada di angka Rp17.000 [per dolar AS] atau di kisaran itu,” terangnya pada media briefing, Senin (12/1/2026).
Menurut Pranjul, faktor yang membuat ketahanan eksternal RI rentan cenderung disebabkan oleh aliran modal asing keluar atau capital outflow baik di pasar saham maupun obligasi.
Dia melihat hal tersebut berdasarkan kondisi aliran modal asing dalam bentuk portofolio sepanjang 2025, sekaligus capaian penanaman modal asing (PMA) jangka panjang atau foreign direct investment (FDI).
Di sisi lain, dia memandang current account deficit (CAD) dari sisi perdagangan barang masih menunjukkan performa yang baik di 2025. Hal itu terlihat dari posisi cadangan devisa Indonesia yang dilaporkan masih berada di level US$156,5 miliar per akhir Desember tahun lalu.
Kinerja neraca perdagangan pun masih menunjukkan tren positif, di mana surplus berlanjut hingga 67 bulan beruntun sampai dengan November 2025 lalu.
“Saya pikir apa yang terjadi di Indonesia bahwa perdagangan bukan suatu masalah yang mencolok saat ini. Surplus neraca dagang juga cukup kuat pada 2025,” terangnya.