
Ussindonesia.co.id JAKARTA. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menargetkan bakal melakukan penanaman kembali alias replanting seluas 8.000 hektare sepanjang tahun 2026.
Presiden Direktur Astra Agro Djap Tet Fa mengatakan, rata-rata usia tanaman AALI sudah mulai menua dan produktivitasnya mulai turun.
Oleh karena itu, replanting akan menjadi strategi utama perseroan di tahun 2026. Di tahun ini, AALI menargetkan replanting mencapai 8.000 hektare.
Simak Prospek Kinerja Emiten Baja pada Tahun 2026
“Artinya ada kenaikan 4% dari kira-kira 280 hektare kebun inti yang ditanam. Ini replanting di seluruh area produktivitas,” ujarnya pada Public Expose AALI, Rabu (15/4).
Untuk melakukan replanting, AALI pun menganggarkan belanja modal alias capital expenditure (capex) sebesar Rp 1,4 triliun di tahun 2026
Per 2025, AALI memiliki 208.063 ha kebun inti. Ini setara dengan 74% total kepemilikan lahan AALI. Sisanya seluas 72.262 hektar atau setara dengan 26% kepemilikan adalah kebun plasma.
Berdasarkan area, sebesar 46 kebun AALI ada di Pulau Kalimantan. Lalu, 37% kebun perseroan di Sumatera dan 17% di Sulawesi.
AALI juga membukukan laba bersih senilai Rp1,5 triliun di tahun 2025. Ini naik 28% year-on-year (yoy) di tengah volatilitas harga crude palm oil (CPO) dan turunannya.
Perusahaan ini juga mencatatkan kenaikan pendapatan bersih sebesar 31% menjadi Rp28,66 triliun dibandingkan dengan tahun sebelumnya Rp 21,82 triliun.
Raharja Energi Cepu (RATU) Terus Mencari Aset Baru
Djap Tet Fa bilang, peningkatan pendapatan merupakan efek dari kenaikan produksi CPO sebesar 6% yoy menjadi 1,2 juta ton dan produksi kernel sebesar 8% yoy menjadi 252.000 ton.
“Adapun volume penjualan CPO dan turunannya di 2025 naik 13% menjadi 1,8 juta ton,” ungkapnya.