Valas Asia masih terbebani sentimen geopolitik Timur Tengah

Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Mayoritas mata uang Asia masih terbebani sentimen geopolitik di Timur Tengah. Mengutip Trading Economics Selasa (17/3) pukul 17.30 WIB, pasangan valuta asing (valas) USD/JPY naik 0,01% ke level 159,09, USD/CNY naik 0,01% ke 6,88, USD/INR naik 0,12% ke 92,36, dan USD/KRW naik 0,09% ke 1.491,01. 

Research & Development Trijaya Pratama Futures, Alwi Assegaf mengatakan, pelemahan mata uang Asia tidak terlepas dari konflik AS – Israel dengan Iran. Konflik tersebut memicu lonjakan harga energi, kemudian meningkatkan permintaan dolar AS sebagai safe haven. Hal ini membuat dolar AS menjadi safe haven. 

Konflik diperparah dengan ditutupnya Selat Hormuz yang merupakan jalur perdagangan minyak mentah dunia. Di satu sisi, mayoritas negara Asia merupakan importir energi dan berpotensi menekan ekonomi negara karena naiknya harga minyak mentah.  

Prospek Prodia (PRDA) Dinilai Tetap Tumbuh Moderat, Ini Rekomendasi Analis

“Ini yang kemudian menyebabkan mata uang Asia cenderung melemah terhadap dolar AS,” ucap Alwi kepada Kontan, Selasa (17/3/2026).  

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, pergerakan mata uang Asia selanjutnya akan dipengaruhi kebijakan suku bunga The Fed. Pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed bulan Maret 2026 dijadwalkan pada 17 – 18 Maret 2026.

Alwi menilai resistance USD/JPY di level 160 menjadi level psikologis yang patut dicermati. Lukman memproyeksikan USD/CNY di level 6,880-6,900, USD/INR ke 92,7 – 92,9, dan USD/KRW di level 1.485 – 1.495 menjadi level resistance dalam jangka pendek. 

Rupiah Masih Tertekan, Yield SBN Naik Jadi Alarm Fiskal Pemerintah

Sementara itu, Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi memperkirakan nilai tukar rupiah berpotensi melemah di atas Rp 17.000 per dolar AS dalam waktu dekat. Pelemahan ini masih dibayangi eskalasi perang di Timur Tengah.