Wall Street berakhir bervariasi, pasar bergejolak usai serangan udara di Iran

Ussindonesia.co.id  NEW YORK. Busa Saham Amerika Serikat (AS) ditutup sedikit bervariasi pada perdagangan Senin (2/3/2026), setelah sesi yang bergejolak menyusul serangan udara terkoordinasi AS dan Israel ke Iran pada akhir pekan. 

Pasar sempat tertekan di awal perdagangan, namun berangsur pulih seiring aksi beli investor yang memanfaatkan penurunan harga.

Di Wall Street, tekanan awal muncul setelah serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Teheran dan mengguncang pasar global. 

Wall Street: S&P 500 dan Nasdaq Menguat, Investor Abaikan Sinyal Hawkish dari The Fed

Lonjakan harga minyak dan kekhawatiran eskalasi konflik membuat sejumlah bursa saham dunia ditutup melemah. Namun di AS, investor kembali masuk pasar dengan keyakinan dampak konflik akan terbatas.

“Pelaku pasar menilai ini hanya sementara dan persoalan di sektor minyak akan mereda,” ujar Bill Smead, pendiri dan ketua Smead Capital Management.

Berdasarkan data awal, S&P 500 naik tipis 0,01% ke level 6.879,42. Nasdaq Composite menguat 0,32% menjadi 22.740,61, sementara Dow Jones Industrial Average turun 0,18% ke 48.891,03.

Konflik di Timur Tengah sempat mendorong saham sektor pertahanan dan energi, namun menekan sektor pariwisata serta saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga. 

Seiring berjalannya perdagangan, investor beralih kembali ke saham teknologi dan mempertimbangkan dampak konflik terhadap inflasi serta arah kebijakan Federal Reserve.

Trump Guncang Wall Street: Saham Properti dan Pertahanan Anjlok

Menurut Smead, investor kembali ke saham-saham yang sudah akrab dan berkinerja tinggi seperti Nvidia, kelompok tujuh saham teknologi utama, serta sektor pertahanan. 

“Saat orang merasa takut, mereka kembali ke hal yang terasa aman,” ujarnya.

Di pasar global, tekanan masih terasa. Bursa saham di Prancis dan Jerman masing-masing turun lebih dari 1%. Di Asia, indeks Nikkei 225 merosot 1,73% setelah sempat anjlok hingga 2% pada pembukaan.

Saham perusahaan energi tampil lebih baik seiring kenaikan harga minyak, sementara saham maskapai penerbangan dan perusahaan perjalanan tertekan akibat pembatalan penerbangan, lonjakan biaya bahan bakar jet, serta penutupan wilayah udara di Timur Tengah. 

Sejumlah fasilitas minyak dan gas di kawasan tersebut dilaporkan menghentikan produksi. Harga minyak mentah AS ditutup melonjak 6% ke level US$71,23 per barel.

Saham sektor pertahanan juga menguat, tercermin dari kenaikan Dow Jones U.S. Defense Index.

Wall Street Melemah, Euforia AI Mereda Usai Kinerja Nvidia Gagal Pikat Pasar

Di sisi lain, Presiden Donald Trump mengatakan kepada CNN bahwa “gelombang besar” masih akan datang, meskipun sejumlah negara Timur Tengah melobi sekutu AS agar perang segera diakhiri.

Di tingkat korporasi, saham AES Corp melemah setelah konsorsium yang dipimpin unit infrastruktur BlackRock, bersama perusahaan ekuitas EQT AB, sepakat mengakuisisi perusahaan utilitas tersebut senilai US$33,4 miliar, dengan harga di bawah penutupan saham sebelumnya.