
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Kinerja pasar obligasi menunjukkan perbaikan pada Februari 2026. Di saat sentimen global bergejolak, kontribusi pendapatan kupon dan tekanan yield yang lebih terbatas menjadi penopang kinerja surat utang, baik pemerintah maupun korporasi.
Berdasarkan data Bloomberg, obligasi pemerintah mencatat return 0,45% secara bulanan (MoM) dan 10,5% secara tahunan (YoY). Capaian ini membaik dibanding akhir Januari 2026 yang masih mencatat return minus 0,32% MoM.
Portfolio Manager/Analyst Batavia Prosperindo Aset Manajemen, Putri Nur Astiwi, menjelaskan perubahan return bulanan tersebut terutama dipengaruhi kombinasi pergerakan yield dan pendapatan kupon (accrual).
Surge (WIFI) Gandeng Perusahaan China FiberHome untuk Genjot 5G FWA 1,4GHz
Menurutnya, meski yield curve pada Januari hingga Februari sama-sama cenderung naik. Namun kenaikan yield di Februari lebih terbatas dibanding Januari sehingga tekanan penurunan harga (price loss) lebih kecil.
“Dengan tekanan harga yang lebih ringan, accrual income dari kupon kembali menjadi dominan dan mendorong total return Februari menjadi positif,” ujar Putri kepada Kontan, Senin (3/3/2026).
Ia menambahkan, pasar juga relatif sudah lebih ahead dalam mem-price in ketidakpastian global dan dinamika kebijakan domestik sejak Januari. Selain itu, permintaan investor domestik seperti perbankan, asuransi, dan dana pensiun tetap menjadi penopang utama sehingga volatilitas harga lebih terjaga meski sentimen global masih negatif.
Di sisi lain, obligasi korporasi tetap melanjutkan kinerja positif. Instrumen ini mencatat return 0,5% MoM dan 10,5% YoY per Februari 2026. Putri menilai, kinerja obligasi korporasi masih ditopang oleh kontribusi kupon serta profil durasi yang umumnya lebih pendek dibanding obligasi pemerintah.
“Sehingga sensitivitas obligasi korporasi terhadap kenaikan yield relatif lebih kecil dibanding obligasi pemerintah,” tandasnya.
Ke depan, Putri menilai prospek return obligasi pemerintah maupun korporasi akan sangat bergantung pada arah sentimen global dan stabilitas nilai tukar rupiah.
Ia mengingatkan sejumlah risiko yang perlu dicermati, antara lain potensi tekanan lanjutan dari langkah lembaga pemeringkat, eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah, serta faktor musiman pada semester I seperti kebutuhan valas terkait dividen yang berpotensi menahan arus masuk dana.
Meski demikian, terdapat peluang perbaikan apabila ketidakpastian mulai mereda.
“Jika ketidakpastian mereda dan/atau terbuka ruang pelonggaran kebijakan, baik melalui penurunan suku bunga atau kondisi likuiditas yang lebih mendukung, kinerja return SBN maupun korporasi berpeluang bisa lebih baik,” pungkasnya.
Kinerja Jasa Marga (JSMR) Turun pada 2025, Simak Rekomendasi Sahamnya