
Ussindonesia.co.id JAKARTA. Manajemen PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menanggapi pengumuman force majeure yang dilakukan oleh emiten petrokimia tersebut menyusul gangguan pasokan minyak mentah di kawasan Selat Hormuz baru-baru ini.
Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat PT Chandra Asri Pacific Tbk Suryandi mengatakan, sehubungan dengan konflik militer di kawasan Selat Hormuz, Timur Tengah, yang berdampak pada kelancaran distribusi bahan baku dalam rantai pasok, maka TPIA telah menyampaikan pemberitahuan force majeure kepada mitra usaha sesuai ketentuan kontraktual yang berlaku.
Penyampaian ini merupakan langkah administratif yang dilakukan secara terukur berdasarkan kajian menyeluruh atas potensi implikasi terhadap pemenuhan kewajiban kepada pelanggan, serta sebagai bentuk transparansi kepada seluruh pemangku kepentingan.
IHSG Amblas dan Sempat Sentuh Level 7.500, Ini Respons BEI
“Kami secara aktif memantau perkembangan situasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus berkembang, dan mengambil langkah antisipatif untuk memastikan ketahanan operasional di seluruh unit bisnis kami,” ungkap dia dalam keterangan resmi, Rabu (4/3/2026).
Sebagai mitigasi, TPIA akan mengurangi tingkat operasional (run rates) di pabrik perusahaan. Saat ini TPIA juga aktif melakukan koordinasi dengan pelanggan untuk memitigasi dampak gangguan pasokan tersebut.
“Dalam kondisi global yang dinamis ini, kami berkomitmen menjaga kesinambungan operasional, ketahanan bisnis serta terus mengevaluasi potensi dampak terhadap kegiatan usaha kami,” kata dia.
Harga Saham Chandra Asri Pacific (TPIA) Anjlok Imbas Konflik di Timur Tengah
Seiring dengan pengumuman force majeure tersebut, harga saham TPIA terpantau anjlok 8,15% ke level Rp 5.350 per saham jelang akhir perdagangan sesi I, Rabu (4/3/2026).