AS serang Venezuela, apa dampaknya terhadap harga minyak dunia?

Ussindonesia.co.id JAKARTA. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Washington akan mengambil alih kendali Venezuela hingga proses transisi pemerintahan dapat berjalan.

Trump juga menegaskan rencana Amerika Serikat (AS) untuk memanfaatkan cadangan minyak Venezuela yang sangat besar dan menjualnya ke negara lain. Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada awak media, hanya beberapa jam setelah Presiden Venezuela Nicolas Maduro bersama istrinya dilaporkan telah ditangkap.

Meski demikian, eskalasi tensi antara AS dan Venezuela tersebut diperkirakan tidak akan memicu lonjakan signifikan pada harga minyak mentah dunia.

Pengamat komoditas dan Founder Traderindo.com Wahyu Tribowo Laksono melihat, meskipun Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, reaksi pasar minyak global justru menunjukkan dinamika yang unik.

Ketegangan AS–Venezuela Dinilai Tak Picu Lonjakan Harga Minyak WTI

Dalam kondisi terkini, harga minyak mentah global seperti Brent dan West Texas Intermediate (WTI) masih bergerak relatif stabil, bahkan cenderung melemah. Harga minyak tercatat berada di bawah level US$ 60 per barel, setelah sempat menyentuh kisaran US$ 54,80 per barel pada pertengahan Desember lalu.

Wahyu menilai, ada tiga alasan utama harga minyak tidak melonjak drastis. Pertama, pasokan melimpah. Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan surplus pasokan minyak dunia sebesar 3,8 juta barel per hari pada tahun 2026.

Kedua, kontribusi produksi Venezuela terhadap suplai global saat ini relatif kecil. Akibat sanksi ekonomi yang berlangsung bertahun-tahun, produksi minyak Venezuela kini hanya menyumbang sekitar 1% dari total pasokan dunia, sehingga potensi gangguan jangka pendek dinilai tidak cukup kuat mengguncang keseimbangan pasar.

Ketiga, pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut akan ‘mengelola’ Venezuela dan segera mengalirkan kembali minyak negara tersebut ke pasar global justru memberikan sinyal potensi tambahan pasokan ke depan.

Meski demikian, Wahyu tidak menutup kemungkinan terjadinya lonjakan harga dalam jangka pendek. Harga minyak berpeluang menguat ke kisaran US$ 60 hingga US$ 63 per barel apabila terjadi sabotase terhadap fasilitas minyak oleh kelompok pendukung Maduro.

“Untuk tren jangka menengah dan panjang tetap diprediksi stabil atau menurun karena pasokan global yang melimpah,” kata Wahyu kepada Kontan, Minggu (4/01/2026).

Secara terpisah, Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM) Reza Fahmi berpendapat ketegangan politik antara AS dan Venezuela bisa memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan global.

“Jika ekspor minyak Venezuela terganggu atau terjadi sanksi tambahan, harga minyak bisa naik signifikan,” ujar Reza kepada Kontan, Minggu (4/01/2026).

Harga Minyak Turun di Awal 2026 Setelah Catat Penurunan Tahunan Terbesar Sejak 2020

Reza memproyeksikan harga minyak Brent bisa menembus US$ 75 per barel hingga US$ 80 per barel, tergantung pada durasi dan eskalasi konflik. Pasar juga akan mencermati respons OPEC+ terhadap potensi kekurangan pasokan.

Bagi Indonesia, sebagai negara net importer minyak, kenaikan harga minyak dan penguatan dolar bisa berdampak ganda.

Inflasi energi berpotensi naik, terutama jika harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak disesuaikan, menambah tekanan ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Lalu, defisit transaksi berjalan bisa melebar karena nilai impor energi meningkat.

Selain itu, rupiah berisiko terdepresiasi, yang bisa memicu capital outflow dari pasar keuangan domestik.

Di sisi lain, sektor komoditas seperti batu bara dan CPO bisa mendapat sentimen positif dari kenaikan harga energi global.