Aturan baru BEI, Mandiri Sekuritas pastikan pipeline IPO tidak terganggu

Ussindonesia.co.id – , JAKARTA — PT Mandiri Sekuritas menyatakan perusahaan-perusahaan dalam pipeline atau antrean penawaran umum perdana saham (IPO) telah menyesuaikan rencana pelepasan saham ke publik sesuai ketentuan minimum free float sebesar 15 persen.

Sebagaimana diketahui, otoritas pasar modal Indonesia akan menaikkan ketentuan minimum free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen, dengan target implementasi pada Maret 2026.

Direktur Utama Mandiri Sekuritas, Oki Ramadhana, mengatakan terdapat sejumlah calon emiten yang sebelumnya berada di bawah ambang batas 15 persen, namun kini telah melakukan penyesuaian agar sesuai dengan ketentuan baru tersebut.

“Ada yang tadinya (free float) di bawah, sekarang harus menyesuaikan,” ujar Oki di sela acara Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama di Jakarta, Rabu (25/2/2026).

Menurutnya, peningkatan minimum free float akan memberikan dampak positif terhadap pasar modal Indonesia, khususnya dari sisi likuiditas. Dengan porsi saham publik yang lebih besar, investor baik institusi maupun individu akan memiliki ruang transaksi yang lebih memadai.

“Kalau makin besar, investor makin punya, kasarnya ada barangnya untuk mereka, ada saham yang bisa dibelikan,” katanya.

Oki menjelaskan, apabila saham yang dilepas ke publik terlalu kecil, maka risiko rendahnya likuiditas di pasar sekunder akan meningkat. Kondisi tersebut dapat menghambat aktivitas perdagangan karena investor kesulitan menjual kembali sahamnya.

“Kalau yang masuk cuma sedikit, masalah tradeability-nya jadi berisiko. Orang nggak bisa trade nantinya di aftermarket, di secondary market,” ujarnya.

Ia menilai penyesuaian regulasi, termasuk kenaikan batas minimum free float, merupakan langkah reformasi yang akan memperkuat transparansi dan tata kelola (governance) pasar modal Indonesia.

“Jauh lebih transparan, governance-nya lebih bagus. Kalau saham yang ditawarkan lebih banyak, perusahaannya bagus, fundamentalnya bagus, kan sayang kalau tidak dimiliki investor, baik domestik maupun luar negeri,” kata Oki.

Sementara itu, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengestimasi likuiditas yang perlu diserap pasar mencapai sekitar Rp187 triliun agar sebanyak 267 emiten dapat menaikkan porsi free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen.

BEI memprioritaskan implementasi tahap awal kepada 49 emiten berkapitalisasi pasar besar (big caps). Penyesuaian tersebut dilakukan melalui revisi Peraturan Nomor I-A tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham yang Diterbitkan oleh Perusahaan Tercatat.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya pendalaman pasar (market deepening), dengan target implementasi minimum free float 15 persen pada Maret 2026.