
Ussindonesia.co.id Ekonom sekaligus pendukung Bitcoin Lyn Alden menilai, Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) mulai memasuki era “cetak uang secara bertahap” (gradual print), yang berpotensi mendorong harga aset secara moderat, namun tidak sedramatis ekspektasi sebagian komunitas Bitcoin.
Dalam buletin strategi investasinya tertanggal 8 Februari, Alden menyebut skenario dasarnya sejalan dengan proyeksi The Fed yakni memperluas neraca keuangan secara proporsional dengan pertumbuhan total aset perbankan atau produk domestik bruto (PDB) nominal AS.
IHSG Melemah ke 7.888,9 di Pagi Ini (9/2), Top Losers LQ45: ISAT, NCKL, UNVR
“Secara keseluruhan, ini membuat saya tetap ingin memiliki aset langka berkualitas tinggi, sambil cenderung melakukan rebalancing dari area yang terlalu euforia ke area yang masih kurang diminati pasar,” ujar Alden dilansir dari Cointelegraph Senin (9/2/2026).
Pernyataan tersebut muncul di tengah gejolak pasar menyusul nominasi Kevin Warsh oleh Presiden AS Donald Trump sebagai calon Ketua The Fed berikutnya.
Warsh dipersepsikan pelaku pasar sebagai figur yang lebih hawkish terhadap kebijakan suku bunga dibanding kandidat lainnya, memicu kekhawatiran di kalangan investor.
Kebijakan suku bunga memiliki pengaruh besar terhadap pasar kripto dan aset berisiko lainnya.
Ekspansi likuiditas melalui peningkatan suplai uang umumnya dianggap positif bagi harga aset, sementara pengetatan moneter lewat suku bunga tinggi cenderung menekan pertumbuhan ekonomi dan harga aset.
Sebagai informasi, mengutip data Coinmarketcap pukul 09.47 WIB, Bitcoin di level US$70.720, naik 2,11% dalam 24 jam terakhir atau turun 7,89% sepekan.
CoinShares: Hanya 10.000 Bitcoin yang Berisiko Diserang Komputer Kuantum
Belum Ada Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga dalam Waktu Dekat
Pasar juga semakin meredam ekspektasi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Berdasarkan data CME FedWatch, hanya 19,9% pelaku pasar yang memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) bulan Maret, turun dari sekitar 23% pada akhir pekan lalu.
Ketua The Fed saat ini, Jerome Powell, sebelumnya memberikan sinyal kebijakan yang cenderung campuran, meski telah memangkas suku bunga beberapa kali sepanjang 2025.
Rupiah Dibuka Menguat Tipis ke Rp 16.872 Per Dolar AS Hari Ini (9/2), Asia Bervariasi
“Dalam jangka pendek, risiko inflasi cenderung meningkat sementara risiko terhadap lapangan kerja juga membesar. Ini adalah situasi yang menantang dan tidak ada jalur kebijakan yang bebas risiko,” kata Powell usai pertemuan FOMC Desember lalu.
Masa jabatan Powell sebagai Ketua The Fed akan berakhir pada Mei 2025. Sementara itu, Kevin Warsh masih harus mendapatkan persetujuan Senat AS, sehingga arah kebijakan suku bunga pada 2026 masih diliputi ketidakpastian, yang turut membayangi pasar global dan aset kripto.