
Ussindonesia.co.id – , JAKARTA — Harga buyback emas Antam telah memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) baru sebanyak enam kali hingga Selasa (20/1/2026).
Berdasarkan data Logam Mulia Selasa (20/1/2026), harga buyback emas Antam naik Rp1.000 ke Rp2.546.000. Posisi itu merupakan rekor ATH terbaru bulan ini.
Dengan demikian, harga buyback emas Antam telah memecahkan rekor ATH baru sebanyak enam kali pada periode berjalan Januari 2026.
Buyback emas merupakan transaksi menjual kembali emas, baik dalam bentuk logam mulia, logam batangan, maupun perhiasan. Biasanya, harga yang dibanderol lebih rendah dari harga jual saat itu.
Kendati demikian, buyback emas masih bisa mendatangkan keuntungan apabila terdapat selisih besar antara harga jual dan harga buyback.
Sesuai dengan PMK No 34/PMK.10/2017, penjualan kembali emas batangan ke Antam dengan nominal lebih dari Rp10 juta, dikenakan PPh 22 sebesar 1,5 persen untuk pemegang NPWP dan 3 persen untuk non NPWP). Adapun, PPh 22 atas transaksi buyback dipotong langsung dari total nilai buyback.
: : Harga Buyback Emas Antam Pecah Rekor ATH Baru Senin (19/1)
Adapun, harga buyback emas Antam mengikuti pergerakan mahar logam mulia di pasar global.
Diberitakan Bisnis sebelumnya, Analis Riset MNC Sekuritas, Raka Junico, mengatakan bahwa harga emas global diproyeksikan memiliki ruang kenaikan signifikan hingga tahun fiskal 2026. Hal ini didorong oleh langkah akumulasi bank sentral dan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar dari Federal Reserve atau The Fed.
: : Harga Emas Antam Hari Ini (20/1) Rekor Lagi, Dibanderol Rp2.705.000 per Gram
Berdasarkan data Bloomberg, emas di pasar spot menguat 1,76% ke level US$4.677,1 per troy ounce pada pukul 07.58 WIB, Senin (19/1/2026). Sementara itu, harga emas berjangka Comex AS kontrak Februari 2026 juga terpantau menguat sebesar 1,91% ke US$4.683 per troy ounce.
“Emas berhasil mempertahankan momentum penguatannya yang didorong oleh permintaan struktural jangka panjang, ketidakpastian global, serta bias pelemahan dolar AS,” ujar Raka dalam riset terbarunya.
Menurut Raka, katalis utama yang akan menjaga tren bullish ini adalah ketidakpastian makroekonomi yang masih berlangsung. Pasalnya, pasar berekspektasi The Fed akan mengambil sikap yang lebih dovish di masa depan.
“Kami mengantisipasi kemungkinan reaktivasi quantitative easing serta pemotongan suku bunga kumulatif sekitar 75 basis poin oleh The Fed,” ucapnya.
Dalam skenario dasar yang disusun MNC Sekuritas, harga emas diproyeksikan akan bergerak hingga US$4.800 per troy ons pada tahun fiskal 2026. Proyeksi ini mengasumsikan kondisi makro global yang tetap berhati-hati, serta aksi borong emas oleh bank sentral dunia yang terus berada di atas tren normal.