
Ussindonesia.co.id – JAKARTA. Harga logam mulia seperti emas dan perak kompak melemah dalam sepekan terakhir, meskipun tensi geopolitik global masih tinggi.
Melansir Bloomberg, Kamis (19/3/2026) pukul 12.00 WIB, harga emas di pasar spot berada di level US$ 4.818,50 per ons troi, turun 4,5% dalam sepekan.
Sementara harga perak ada di level US$ 75,62 per ons, turun 11,15% dalam sepekan.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, pelemahan harga emas terutama dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini seiring dengan menurunnya ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS, The Fed.
Harga Emas Antam Hari Ini Anjlok Rp 53.000 Jadi Rp 2.943.000 Per Gram, Kamis (19/3)
Sebagai perbandingan, pada saat yang sama indeks dolar AS (DXY) di level 100,1 menguat 0,36% seminggu ini.
“Penguatan dolar AS oleh menurunnya prospek pemangkasan suku bunga The Fed. Faktor tersebut saat ini dominan dibandingkan sentimen risk off,” ujar Lukman kepada Kontan, Selasa (17/3/2026).
Selain itu, harga emas yang sudah naik cukup tinggi sejak awal tahun mendorong sebagian investor melakukan aksi profit taking. Investor pun cenderung menunggu momentum yang lebih tepat untuk kembali masuk ke pasar.
Meski begitu, Lukman menegaskan bahwa reli emas belum sepenuhnya berakhir. Secara fundamental jangka panjang, kenaikan harga emas masih ditopang oleh permintaan dari bank sentral global.
Menurutnya, pelemahan saat ini lebih dipengaruhi faktor jangka pendek hingga menengah. Ke depan, arah harga emas akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik, khususnya durasi konflik serta pergerakan harga minyak dunia.
Bursa Asia Kompak Memerah pada Kamis (19/3) Pagi, Terseret Eskalasi Perang Iran
“Pada saatnya emas akan melanjutkan reli, tergantung seberapa cepat perang selesai dan harga minyak dunia,” jelasnya.
Sementara itu, perak menunjukkan karakter yang sedikit berbeda. Selain berfungsi sebagai safe haven, perak juga merupakan logam industri yang banyak digunakan dalam sektor energi terbarukan.
Lukman menjelaskan, reli perak yang cukup signifikan pada akhir 2025 didorong oleh kekhawatiran terhadap pasokan di tengah meningkatnya permintaan dari industri energi hijau.
Namun, seperti emas, pelemahan harga perak saat ini juga dipengaruhi oleh penguatan dolar AS dan ekspektasi suku bunga The Fed.
“Perak cenderung lebih volatil,” kata Lukman.
Untuk proyeksi, Lukman memperkirakan harga emas pada semester I 2026 akan berada di kisaran US$ 5.300 – US$ 5.500 per ons troi.
Ada pun harga perak akan bergerak di kisaran US$ 95 hingga US$ 100 pada semester I 2026.